| |
• My Article
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]
[18]
[19]
Category: Artikel Pilihan
Tu-4 SUPERFORTRESSKII
Berbekal barang sitaan, Soviet pasca perang dunia II memiliki pembom strategis B-29 "Made In Soviet" yang sanggup mengancam daratan Amerika Serikat dan Sekutunya. Tetapi benarkah mereka berdua benar-benar kembar bak pinang dibelah dua ?
Pertama kali mengenal pembom B-29 Superfortress adalah ketika Edward Rickenbecker berkunjung ke Moskow tahun 1942 dalam kapasitas sebagai pejabat program lend-lease act. Program ini sendiri adalah program pengiriman bantuan senjata antar negara sekutu untuk melawan negara-negara poros. Rickenbecker mengungkapkan secara terang-terangan dan mendetail seluruh persenjataan Amerika baik yang sudah diproduksi maupun yang masih prototipe termasuk B-29. Sebelumnya Soviet mengenal keberadaan pembom baru ini hanya diketahui secara kabur lewat foto, dokumen, dan data-data teknis. Josef Stalin segera membuat surat permintaan agar B-29 masuk kedalam jajaran armada udaranya.
Mungkin dinilai terlalu strategis, Amerika Serikat menolak dan sebagai gantinya menyuplai pesawat angkut, pemburu, dan pembom jarak sedang. Saat perang dunia II, Soviet memiliki lebih dari 15,000 pesawat berbagai jenis (termasuk didalamnya buatan Amerika dan Inggris) tapi tidak memiliki kemampuan dengan apa yang dicita-citakan Stalin yaitu menusuk dan menggempur jauh di jantung pertahanan Jerman. Pembom bermesin empat buatan dalam negeri, Petlyakov Pe-8 meski memiliki kemampuan itu dinilai kualitasnya masih jauh dari harapan apalagi secara numerik sangat sedikit hanya sekitar 30 unit yang operasional di arsenal Red Air Force. Tahun 1943, sekali lagi sang diktaktor membuat surat permintaan tapi lagi-lagi ditolak, apa daya ternyata Amerika memang tak berniat memberikan pembom paling gress-nya itu.
Tanpa disangka 29 Juli 1944, sebuah pembom B-29A bernama Ramp Tramp (no. seri 42-6256) dipimpin Capt. Howard Jarrel tertembak artileri udara Jepang saat melakukan misi pemboman pabrik baja Showa di kota Anshan, Manchuria. Tak dapat kembali ke pangkalannya di Chengtu, Cina Selatan, Capt. Jarrel memutuskan melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara AL Soviet, Vladivostok. Bulan berikutnya tanggal 20, B-29 lainnya (no. 42-93829) jatuh di kaki bukit Sikhote, Khabarovsk Timur. Seluruh crew berhasil terjun dari pesawat nahas itu setelah melakukan pemboman di kota Yawata, Jepang. Tanggal 10 November 1944 malam hari, B-29 General H.H. Arnold Special (no. 42-6365) mengalami kerusakan setelah melakukan misi di atas Omura dan terpaksa dilarikan ke Vladivostok, diikuti 11 hari berikutnya Ding How (no. 42-6358).
Terhadap Jepang, negara Soviet adalah netral. Kremlin menahan tiga B-29 yang masih utuh sedangkan crew dari keempat B-29 itu dikembalikan lewat Iran. Keputusan politis menahan B-29 diambil agar tidak menimbulkan kemarahan yang beresiko membuka front perang kedua dengan Jepang, apalagi saat itu wilayah Timur Jauh sedang lemah karena sebagian besar divisi tempur Siberia dikirimkan ke Eropa. Washington menghormati keputusan sekutu besarnya itu dan berharap segera setelah perang berakhir ketiga pembom dikembalikan. Nggak tahunya….
Proyek B-4
Menjelang akhir perang semakin terasa meruncingnya ketegangan front komunis dan kapitalis apalagi ditambah sikap Stalin yang paranoid. Pengembalian ketiga pembom itu semakin tersendat-sendat dan timbul keputusan kontroversial dari mulut Stalin sendiri yaitu Soviet harus memiliki kekuatan pembom strategis jarak jauh dengan cara menjiplak B-29. Ia menjadwalkan hal itu bisa terpenuhi dalam waktu hanya 2 tahun ! Dari situ proyek pembuatan (baca : penjiplakan) pembom bermesin empat B-4 diluncurkan tanggal 22 Juni 1945 dan Stalin menunjuk Andrei Tupolev sebagai kepala desainer. Ia sekaligus membatalkan proyek Samolet (pesawat) 64 yang sedang dikerjakan Tupolev bulan Januari 1945. Tujuan proyek ini sama dengan B-4 tapi dengan mendesain sendiri. Stalin menilai proyek ini terlalu lambat karena butuh minimal 5 tahun. Tupolev jelas tidak punya pilihan lain.
(dari kiri) Andrei Tupolev, Josef Stalin, dan Lavrenty Beria
Karena proyek B-4 merupakan proyek sensitif, Stalin menunjuk Lavrentiy Beria--kepala NKVD/ polisi rahasia--sebagai pengawas untuk memastikan Tupolev menjiplak B-29 sama persis karena khawatir bila ada perubahan atau modifikasi sekecil apapun akan memperlambat proses produksi. Di mata Tupolev (dan juga rakyat Soviet saat itu), Beria adalah orang nomor dua yang pantas ditakuti setelah Stalin. Banyak sekali pejabat dan rakyat Soviet tanpa alasan yang jelas dibunuh maupun di-gulag-kan (dipenjara) oleh NKVD. Ia sendiri pernah mengalaminya tahun 1939 dimana pernah dipenjara karena dituduh membantu mendesain pesawat pemburu Jerman. Tupolev akhirnya dibebaskan lagi-lagi tanpa alasan yang jelas. Pasti ada perasaan trauma karena harus bertanggung jawab kepada Beria tapi dengan cerdas ia mengganggapnya sebagai keuntungan. Sadar yang dihadapi akan butuh proses manufaktur yang banyak dan rumit padahal waktunya sedikit sekali, Tupolev mendelegasikan kepada beberapa pejabat tinggi kementerian untuk mengawasi pabrik-pabrik yang ditunjuk dan melaporkan segera bila ada gangguan maupun keterlambatan produksi. Laporan pertanggung jawaban ini ditujukan bukan hanya kepadanya tapi juga langsung kepada Beria ! Alhasil semuanya harus berjalan lancar dan tepat waktu kalau tidak ingin mendapat sangsi berat dari NKVD.
Tu-4 Lahir
Setelah proyek B-4 diluncurkan, ketiga B-29 diperbaiki dan diterbangkan dari Vladivostok ke Central Aerodrome, Moskow awal Juli 1945. Tupolev memutuskan untuk menjiplak tiap komponen dari General H.H. Arnold Special sementara Ding How di-grounded sebagai referensi. Ramp Tramp yang kondisinya paling baik dikirim ke 890th Air Regiment, resimen pembom Uni Soviet paling veteran dalam mengoperasikan pembom buatan Amerika saat perang untuk diterbangkan guna pelatihan crew.
Ketika ditunjuk menjadi kepala desainer B-4, Tupolev menyadari ia dipilih bukan tanpa alasan kuat. Prestasinya sebelum perang adalah berhasil mendesain pesawat-pesawat multi-mesin yang sanggup memecahkan rekor. Tetapi itu 10 tahun yang lampau. Sekarang ia menghadapi tantangan cukup sulit. Kandungan teknologi B-29 jauh melampaui teknologi Soviet.
Ratusan pekerja membongkar dan mengukur dengan tekun setiap komponen dari General H.H. Arnold Special untuk dibuat cetak biru Tupolev Tu-4
Tantangan pertama yang dihadapi adalah perbedaan ukuran Inggris yang diterapkan B-29 dengan ukuran metrik yang dipakai di dalam negeri. Tupolev memutuskan untuk tidak mengkonversi ke sistem metrik demi menghemat waktu. Sebagai contoh : kulit sayap memiliki ukuran standar 1/16 inchi (1.5875mm). Pabrik alumunium Soviet tidak punya ukuran itu, bila dipaksakan akan mahal dan makan waktu untuk memproduksinya. Tupolev membuat dengan memakai ukuran bervariasi 0.8 s/d 1.8 mm yang berefek akan meningkatkan kekuatan struktur tapi akan meningkatkan berat. Tapi disinilah hebatnya Tupolev, berkat perhitungan cermat cara ini hanya menambah sekitar 1 % saja dari berat orisinal. Tantangan berikutnya adalah menjiplak sistem persenjataan defensif nan kompleks B-29 dimana penembak tidak menembak secara langsung melainkan lewat remote kontrol yang jelas membutuhkan perangkat elektronik canggih. Ivan Toropov selaku kolega Tupolev berhasil mengerahkan segala upaya secara maksimal. Ini tentu saja mematahkan anggapan pengamat Barat bahwa tak akan mampu meniru sistem "yang jauh melebihi dari kapasitas ahli elektronik terbaik Soviet." Sistem landing gear yang besar juga menimbulkan masalah karena saat itu pabrik dalam negeri tidak memiliki kemampuan memproduksi ban B-29 yang berukuran luar biasa. Untuk jangka pendek sebelum diproduksi sendiri, Soviet memakai cara unik yaitu dengan mengirim agen untuk membeli lewat war surplus market. Meski diperintahkan untuk menjiplak tiap bagian B-29 sama persis, Stalin mau berkompromi dengan tidak menjiplak komponen radar, radio, bombsight / pembidik bom, avionik, mesin, dan senjata agar menghemat waktu. Hasilnya dari luar B-4 sama dengan B-29 tapi dalamnya beda karena menggunakan produk lokal, sebagai contoh memakai mesin piston buatan kolega Tupolev, Arkadii Shvestov ASh-73TK (tidak menjiplak mesin Wright R-3350)dan memasang senjata defensif kanon 23 mm Nudelmann-Suranov NS-23 (aslinya B-29 memakai senapan mesin kaliber 12.7 mm).
B-29 terdiri atas lebih dari 105,000 buah komponen. Layaknya semut pekerja, ratusan ribu buruh dikerahkan untuk membongkar dan mengukur tiap-tiap komponen dari General H.H. Arnold Special. Tupolev juga mengerahkan ratusan juru gambar dan memotret tiap komponen guna membuat 40,000 gambar detail untuk diproduksi. Mereka semua bekerja keras hari demi hari di bawah tekanan karena diawasi NKVD dan dengan waktu sangat mepet. Toh akhirnya produksi pertama berhasil roll-out dan melakukan penerbangan perdana Mei 1947, sebulan lebih cepat dari yang dijadwalkan. Jernih payah para buruh terbayar saat menyaksikan pilot uji melakukan manuver ringan di atas lapangan terbang pabrik. B-4 sukses dan namanya resmi menjadi Tu-4 dan setahun kemudian Tupolev dianugrahi Stalin Prize karena prestasinya itu.
Infiltrasi Nuklir
Isu kehadiran "B-29 versi bajakan" santer dimulai sejak ditulis dikoran terbitan Berlin, Der Kurier 11 November 1946. Berita ini tidak ditanggapi serius karena yakin industri Soviet tak memiliki kemampuan memproduksi pesawat sebesar dan secanggih seperti B-29. Baru tanggal 3 Agustus 1947, Tu-4 diperlihatkan kepada umum. Empat unit (salah satunya adalah varian komersial dari Tu-4 yaitu Tu-70) melakukan fly over rendah saat Aviation Day diatas Tushino Airport, Moskow. Sejak saat itu praktis Soviet masuk klub pembom strategis.
Barang jiplakan tentulah tidak sempurna seperti yang asli, ini pula yang dialami Tu-4. Beberapa prototipe mengalami berbagai masalah teknis tapi produksi terus berjalan sambil disempurnakan. Tu-4 benar-benar operasional periode 1948-1949 dan setahun kemudian,DA-VVS (Dalnyaya Aviatsiya-Voenno Vozdushnye Sily /Long Range Aviation-Soviet Air Force) memiliki 9 resimen /skuadron Tu-4 total 32 unit per resimen. NATO memberikan kode "Bull" pada Tu-4 dan "Cart" untuk versi sipilnya. Pertengahan 1950-an, Soviet menjual Tu-4 kepada Republik Rakyat Cina sekaligus memantapkan posisinya sebagai negara Asia pertama berkekuatan pembom strategis dan dipakai sampai tahun 1968.
Bagi negara Barat dan Amerika, debut Tu-4 tak ada artinya, itu teknologi 5 tahun yang lampau. Tapi setelah Soviet meledakan bom atom pertama 29 Agustus 1949 diikuti keberhasilan Tu-4 menjatuhkan bom atom 18 Oktober 1951, mereka siaga nuklir dengan terburu-buru memasang misil kendali darat-udara Nike Hercules dan meriam artileri udara berpengendali radar Skysweep. Skenario terburuk adalah mengirim Tu-4 bermuatan bom atom--one way ticket mission / misi sekali jalan--ke Chicago atau New York lewat infiltrasi yaitu memasang identitas USAF. Untung saja skenario itu tidak terjadi.
Kalangan militer Soviet tahu bahwa kehadiran mesin jet akan membuat Tu-4 yang bermesin piston segera menjadi barang usang. Bagi penggemar kisah udara Perang Korea pastilah tahu Black Tuesday 23 Oktober 1951, sebuah hari buruk dimana USAF kehilangan banyak B-29 akibat serangan jet pemburu MiG-15 yang diawaki penerbang Soviet. Hal itu juga yang menghalangi Tu-4 terjun dalam Perang Korea, jadi sangat berbeda dengan "kembarannya" yang telah malang melintang menjadi veteran, Tu-4 tidak pernah berperang. Pengembangan pembom bermesin jet seperti Tu-16 dan Myasischev M-4 semakin menurunkan nilai strategis Tu-4. Produksi dihentikan tahun 1953 setelah membuat 845 unit dan tahun 1960, Tu-4 praktis menghilang dari jajaran armada pembom Soviet. Layaknya hukum alam, yang tua akan tergantikan dengan yang muda atau dalam kasus ini teknologi piston harus menyingkir demi kehadiran teknologi mesin jet.(Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2005)
Sumber Pustaka :
- Air & Space Magazine,"Made In Soviet", February/March 2001
- Gunston, Bill,An Illustrated Guide To Modern Bombers, London:Salamander Book, 1988
Sumber Internet :
- http://aeroweb.lucia.it/rap/RAFAQ/Tu-4.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Tupolev_Tu-4
- http://www.fas.org/nuke/guide/russia/bomber/tu-4.htm
Category: Artikel Box
TUPOLEV Tu-4 EXHIBITION
Karena proyek B-4 adalah proyek besar setelah proyek bom atom Uni Soviet, Andrei Tupolev menyediakan ruang pameran di pabrik pesawat terbang No. 156, Moskow sebagai alat peraga kepada pejabat-pejabat Uni Soviet yang akan berkunjung.

Mulai dari gambar cutway, mock up skala 1 : 1, senjata defensif kanon 23 mm, kerangka fuselage dan tidak ketinggalan keseluruhan komponen Tu-4 yang amat kompleks itu.
Category: Artikel Box
MITOS & VARIAN Tu-4
Benarkah mereka menjiplak sama persis termasuk lubang akibat tembakan artileri udara, lubang kecil tak jelas fungsinya di sayap kiri, mencat dengan warna yang sama persis pada interior kabin, dan bahkan menjiplak parasut dan kursi crew, dan lain-lain ? Menurut Leonid Kerber dalam wawancara dengan Air & Space tahun 1991 yang terlibat dalam sistem radio dan navigasi Tu-4, mitos-mitos itu hanya sebagian yang benar. Tim proyek B-4 tahu benar apa yang harus dijiplak dan mana yang tidak. Memang benar cat interior sama persis tapi tidak yang lainnya, hal itu semata-mata untuk menghindari kecurigaan Beria.
Ramp Tramp masih sempat diterbangkan untuk proyek roket DSF 346 sebelum di-srap.
Lalu bagaimana dengan tiga B-29 yang ada ? Sayang sekali seluruhnya telah di-scrap dan tidak ada bekasnya yang masih utuh. Ramp Tramp sendiri masih diterbangkan sampai pertengahan 50-an untuk keperluan latih dan riset diantaranya sebagai pesawat induk untuk membawa prototipe pesawat roket supersonik DSF 346 (mirip dengan proyek Bell X-1).
Walau namanya buruk dimata Barat, tak pelak lagi Tu-4 merupakan master piece dan pionir bagi kemajuan teknologi dirgantara militer Soviet pasca perang dunia II. Prinsip managemen tanggung jawab dan managemen pabrikasi yang dipelopori Tupolev akhirnya juga dipakai untuk proyek lainnya khususnya proyek antariksa pimpinan Sergei Korolev. Pengembangan pesawat militer khususnya pembom generasi berikutnya mungkin tak bakal secepat dan selancar bila tak ada proyek B-4.
Meski kurang dikenal, Tupolev juga mengembangkan varian dari Tu-4 seperti varian komersial Tu-70 dan Tu-75 yang berkapasitas 48-70 penumpang. Sayang ekonomi pasca perang mengakibatkan gagal diproduksi besar-besaran sebagai pesawat airliner dan hanya bertugas sebagai pesawat VIP. Versi berukuran lebih besar juga dibuat yaitu Tu-85 Barge, meski juga gagal diproduksi mengilhami Tupolev untuk memasang mesin turboprop sehingga menghasilkan Tu-95 Bear, pembom turboprop tercepat yang pernah ada. Sebelum non aktif mulai tahun 1954, banyak Tu-4 dikonversi untuk bermacam-macam tugas seperti sebagai transpor militer (Tu-4D), pesawat latih (Tu-4USHS), dan laboratorium terbang (Tu-4LL).
|
|
|
|