| |
My Article
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]
[18]
[19]
Category: by Sudiro Sumbodo MENDESAIN INTERIOR PESAWAT TERBANG
MENDESAIN INTERIOR PESAWAT TERBANG
Mendesain interior pada pesawat terbang khususnya pada pesawat komersial tidaklah mudah, mungkin sama sulitnya dengan mendesain pesawat terbang itu sendiri. Terkesan hiperbolis memang, tapi dalam mendesain interior pesawat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Tidak hanya memikirkan segi estetika saja, aspek kesehatan manusia, aspek 3K, serta tidak ketinggalan faktor pasar perlu dimasukan.
Mendesain interior pesawat terbang berbeda dengan mendesain interior kereta api, bus, ataupun kapal laut, walaupun sama-sama dalam satu kategori yaitu interior dinamis (catatan : interior bangunan seperti rumah, gedung, dan sebagainya dalam kategori statis karena tidak bergerak).
Mendesain interior pesawat pun ada aturannya tidak sekedar indah semata (faktor estetika). Peraturan yang dipakai dalam mendesain interior seperti yang tertuang dalam Federal Aviation Regulation (FAR) 25 dan 36. Tapi yang pertama-tama perlu diketahui adalah jenis pesawatnya dan misi apa yang ingin dilakukan. Apakah dari jenis militer, sipil atau kargo udara ? Apakah untuk penumpang VIP, bisnis, atau ekonomi atau kombinasi dari ketiga itu ? Apakah untuk misi khusus angkut pasukan atau evakuasi medis ? Jarak dan lama penerbangan juga masuk hitungan. Apakah penerbangan jarak jauh tapi masih dalam penerbangan domestik atau rute internasional ? Apakah untuk penerbangan non-stop atau bukan ?
Interior pesawat komersial atau lebih kerennya disebut civil version mempunyai syarat-syarat yang kompleks dibanding pesawat militer. Pengguna angkutan udara sipil lebih memperhatikan kenyamanan sedangkan militer demi keberhasilan misi. Tapi patut dicatat jangan pukul rata semua interior pesawat militer adalah sama atau berpendapat bahwa semua jenis pesawat militer tidak nyaman. Contohnya pesawat militer P-3 Orion atau E-3 Sentry. Interior dan kelengkapan kenyamanan buat awak pesawat-nya malah jauh lebih baik bila dibandingkan pesawat komersial pada umumnya. Ini disebabkan karena kedua pesawat itu berisi banyak alat elektronik yang membutuhkan kabin bertekanan dan suhu tertentu agar peralatan tetap awet dan bekerja dengan baik. Apalagi misi dari kedua pesawat ini adalah berpatroli sebagai pengawas udara yang kadang-kadang lamanya bisa mencapai 8 jam atau lebih, jelas kenyamanan perlu untuk mencegah awak pesawat agar tidak cepat lelah. Tapi kenyamanan tidak diperlukan untuk C-130 yang bekerja sebagai workhorse, mengangkut barang dan pasukan, tidak perlu adanya AC ataupun peredam suara di kabin.
Aspek 3K
Interior pesawat terbang sangat memperhatikan aspek 3K yaitu Keamanan, Keselamatan,dan Kenyamanan. Persyaratan bahan yang dipakai-pun jauh lebih ketat bila dibandingkan moda transportasi lainnya.

Contoh sederhana pada kursi /passenger seat. Pada moda transportasi lain bisa dipakai bahan apa saja-umumnya dari fiberglass-asal memenuhi syarat estetika dan kuat, itu lebih dari cukup. Pada pesawat terbang tidak cukup hanya itu. Selain ringan, standar kekuatan dari kursi harus ditentukan. Dulu kursi penumpang harus tahan terhadap gaya 9G tapi sekarang sudah dipersyaratkan sampai 16-19 G,artinya kursi kuat menahan beban minimal 16 kali berat badan. Persyaratan ini tidak lain untuk memperhitungkan menyelamatkan penumpang dari kemungkinan kecelakaan.
Bahan-bahan seperti pelapis kursi, karpet, termasuk pelapis dinding / wallpaper dipersyaratkan tidak merambatkan api dan bila terbakar saat kecelakaan tidak menyebarkan gas yang mematikan. Selain itu kandungan kadar racun / toxic pada bahan juga diperhatikan, kalau dulu bahan epoxy prepeg sering dipakai maka sekarang bahan itu diganti dengan venolyc prepeg yang kadar racunnya jauh lebih rendah.
Produk-produk interior pesawat seperti bagasi penumpang / baggage compartment, toilet / lavatory, maupun dapur / galley perlu ditempatkan dengan tata ruang yang memerlukan ketajaman dan ketepatan rasa termasuk berdasarkan misi penerbangan dan 3K tadi.
Kebebasan dan kenyamanan ruang penumpang termasuk didalamnya untuk duduk serta berdiri, ruang untuk berjalan di lorong / aisle, pengaturan sistem AC, penempatan lampu baca, sampai penggunaan meja kecil yang terpasang didepan kursinya juga memperhitungkan aspek kesehatan manusia (aspek bio-engineering).
Bantalan kursi untuk kenyamanan dipilih dari yang empuk untuk penerbangan jarak pendek dan yang agak keras untuk jarak jauh. Menurut penelitian memang bantalan kursi yang agak keras tidak enak tapi bisa mengikuti kontur tubuh yang bisa memberikan kenyamanan tersendiri bila duduk dalam waktu yang lama.
Jarak antar kursi (pitch)-pun diatur, untuk kelas ekonomi tidak boleh kurang dari 32-35 inchi sedangkan kelas bisnis atau VIP lebih lebar lagi. Tidak ketinggalan lebar dari kursi itu juga turut diperhitungkan jangan sampai terlalu sempit (untuk pengukuran ini diambil standar tubuh orang dewasa normal dengan berat 70-80 kg dan tinggi 170-180 cm).
Untuk mengurangi kebisingan si desainer melengkapi panel jendela pesawat dengan lapisan peredam suara. Lapisan ini terbuat dari fiberglass blanket, scotch foam, dan isolator. Sedangkan kerangka jendela terbuat dari bahan komposit nomex honeycomb yang mampu menahan panas.
Pada kondisi darurat kemudahan akses pintu darurat, kemudahan mengambil dan menggunakan alat penyelamat, plus alat bantu pernapasan juga perlu diperhatikan dalam aspek desain interior pesawat, jangan sampai penataan interior di dalam kabin malah membuat penumpang sulit dievakuasi.
Mendesain interior-pun juga masuk ke ruang kokpit termasuk penempatan instrumen jadi tidak hanya asal pasang, harus mencerminkan kemudahan dan kesederhanaan. Sistem kemudi haruslah mudah dijangkau pilot dan tempat duduk haruslah nyaman. Penerangan di dalam kokpit-pun perlu diatur. Cat interior kokpit haruslah berwarna terang (contoh : biru muda atau putih) layaknya di kabin penumpang yang dapat membantu meningkatkan pencahayaan, memberi rasa dimensi ruang lebih luas, dan menimbulkan rasa tenang lagi nyaman. Jadi jangan dipasang warna gelap apalagi berwarna merah tua yang lagi-lagi menurut penelitian menimbulkan perasaan tidak enak atau malah menambah stress (inilah alasan mengapa telepon umum di Inggris berinterior warna merah agar si pemakai tidak terlalu lama menelpon).
Selera Pasar
"Pasar adalah tempat belajar", begitu yang sering didengungkan para industrialis. Produk bagus tapi tidak disukai atau tidak dibutuhkan konsumen, buat apa ? Setiap produsen yang ingin sukses dan laku produknya perlu memperhatikan kecendrungan pasar. Pertama : temukan pasar untuk produk kita. Kedua : yakini bahwa produk itu benar-benar dicari pasar. Ketiga : yakinkan kemampuan kita sebelum membuat rancangan yang tepat. Keempat : yakinkan pasar itu siap menerima produk yang kita lemparkan. Dan terakhir yaitu daya saing.
Untuk membuat pesawat terbang yang sesuai dengan selera pasar maka pihak yang terkait dalam mendesain pesawat terbang harus bekerja keras agar desainnya diterima dan disukai pasar pula. Daya saing memang menentukan laku tidaknya pesawat terbang, apalagi bila pesaing lain memasarkan produk yang tidak jauh berbeda.
Contoh yang paling nyata adalah Clash of The Titans antara Konsurium Airbus (lewat A340) dan Boeing (lewat B777). Kedua tipe pesawat itu berada dalam satu kelas, kemampuan dan teknologinya masing-masing nyaris sama, dan kedua pabrik itu sangat berambisi memperebutkan kebutuhan dunia akan pasar pesawat komersial jarak jauh kapasitas 300-400 penumpang.
Jadi jurus apalagi yang dipakai kalau semuanya sama-sama imbang ? Boeing menyatakan B777 adalah pesawat market-driven airliner karena mendengar kebutuhan, saran-saran dan urun rembuk bagaimana mendesain interior pesawat komersial yang baik dari delapan maskapai besar dunia yaitu British Airways (BA), United Airlines, Delta, Cathay Pasific , Qantas, serta dua maskapai asal Jepang JAL dan ANA. Demikian percaya dirinya sehingga Boeing membuat mock-up kabin perbandingan tiga pesawat B777-MD11-A340 (catatan : MD11 akhirnya tersingkir dan McDonnell Douglas diakusisi oleh Boeing) ! Di mock up itu segera tergambarkan dengan jelas betapa lega kabin B777 dengan menerapkan desain dengan sudut yang melengkung ke atas sehingga tidak ada resiko kepala terbentur dan tinggi bagasi penumpang / baggage compartment yang ideal dimana penumpang tidak perlu berjinjit untuk memasukan barang.
Sudah barang tentu Airbus tidak tinggal diam. Pada seri 600 misalnya interior kabin A340 menerapkan teknologi pencahayaan LED (Light Emitting Diode) yang penyebaran cahayanya lebih luas. Dengan LED ini selain menyejukan mata dapat membantu memberikan kesan luas pada kabin. Agar penumpang kelas ekonomi tidak berebut sandaran tangan maka kursi tengah juga diberi sandaran tangan tersendiri. Sementara bagasi penumpang diperbesar ukurannya karena ruang bagasi yang luas sangat diminati masyarakat pengguna angkutan udara, dan khusus di kelas utama pada bagian tengah tidak dipasang bagasi sehingga kabin terasa sangat lapang.
Dari pertarungan ini terbukti interior pesawat terbang bukanlah main-main atau sekedar pemanis belaka dalam industri pesawat terbang. Desain interior yang jarang disentuh selama ini tiba-tiba menjadi perhatian serius bagi kompetitor produsen pesawat komersial demi memasarkan produknya dan memikat pembeli. Para desainer interior pesawat terbang kini dituntut lebih jeli, pandai membaca selera pasar, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. Interior pesawat terbang tak hanya indah tapi juga memberikan aspek keamanan, keselamatan, dan kenyamanan. Bahkan untuk aspek keamanan dan keselamatan ini diperlukan untuk mendapatkan "surat sakti" dari badan keselamatan penerbangan seperti Federation Aviation Administration (FAA), demi memberikan jaminan kepada pembeli. Selain itu tidak kalah penting desain interior harus memenuhi sesuai selera pasar atau dalam hal ini selera konsumen, baik oleh konsumen perusahaan penerbangan sebagai penyedia jasa angkutan udara maupun konsumen masyarakat itu sendiri sebagai penumpangnya. Tak heran bahwa interior pesawat terbang adalah karya seni tersendiri bagi industri pesawat terbang. (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2005)
Sumber Pustaka :
- Angkasa, Majalah Bulanan, "Ergonomi Dalam Pesawat Terbang", No.5 Februari 1991
- Angkasa, Majalah Bulanan, "Interior Bermula Dari Pasar", No. 2 November 1991
- Angkasa, Majalah Bulanan, "Boeing 777 Pesawat Murni Dirancang Dengan Komputer", No. 5 Februari 1992
- Angkasa, Majalah Bulanan, "Boeing vs. Airbus : B777 Kartu As Boeing ?", No. 9 Juni 1995
- Angkasa, Majalah Bulanan, "Seven Seven Seven", No. 9 Juni 1996
- Angkasa, Majalah Bulanan, "Toulouse Geser Seattle Sebagai Pusat Dirgantara", No. 7 April 2001
- Diktat Kuliah Aerodinamika Terapan II Universitas Suryadarma
- IPTN, Interior Pesawat Terbang & Transportasi-Seminar dan Pameran Nasional, 1997
- McGrawHill, Aircraft Basic Science, 1948
Category: by Sudiro Sumbodo MENGKOLEKSI PRANGKO KEDIRGANTARAAN
MENGKOLEKSI PRANGKO KEDIRGANTARAAN
Secarik kertas kecil yang fungsinya sebagai alat pembayaran pos menarik minat kolektor dan menjadi hobi baru sejak awal kemunculannya. Desain yang unik dan menarik bahkan memberikan aspek edukatif dan bisnis tersendiri. Dunia kedirgantaraan-pun terekam dalam benda kecil ini.
Prangko berasal dari bahasa Latin franco yang lahir pada abad ke-19 itu memang tak terpisahkan dari kegiatan pos. Meskipun demikian sejarah perangko masih lebih muda bila dibandingkan sejarah surat menyurat. Di Inggris sendiri kegiatan surat menyurat sudah dimulai sejak abad ke-17 dimasa Charles II. Saat itu surat dimasukkan ke dalam amplop, diberi alamat dan disegel dengan lilin. Orang yang menerima surat inilah yang membayar ongkos kirim berdasarkan jarak. Cara ini lama kelamaan dinilai tidak praktis. Bagaimana bila si penerima surat tidak punya uang saat itu ? Dinas pos Inggris mengalami kerugian karena banyak penerima surat menolak surat dengan berbagai macam alasan. Akhirnya diambil keputusan bahwa si pengirim surat yang harus dibebani pembayaran.
Untuk itu mula-mula diperkenalkan semacam meterai pembayaran lalu dikembangkan menjadi apa yang kita namakan perangko berperekat yang lebih praktis oleh Sir Rowland Hill pada tanggal 6 Mei 1840. Prangko pertama ini dirancang oleh William Wyon dan disebut sebagai Penny Black, yaitu prangko hitam bergambar Ratu Victoria dengan kata "Postage" dan "One Penny" yang menandakan harga 1 penny sebagai harga yang harus dibayar oleh si pengirim.
Perkembangan Desain
Karena praktis tidak lama kemudian beberapa negara dengan latah mengikuti inovasi dinas pos Inggris itu. Brazil dan Swis tercatat sebagai pengikut mode prangko tiga tahun kemudian, lalu diikuti Amerika Serikat tahun 1843 diikuti negara Eropa lainnya seperti Belgia dan Prancis tahun 1849. Dibandingkan jaman sekarang, desain prangko pada awal kelahirannya sangat tidak menarik dan monoton. Maklum akibat terbatasnya kemampuan mesin cetak dan masih terbatasnya penggunaan prangko maka kebanyakan prangko bergambar wajah kepala negara, lambang mata uang, atau lebih sering lambang negara pembuatnya. Tapi seiring semakin meluasnya pemakaian prangko di dunia maka beberapa negara mulai menyimpang dengan membuat desain baru yang lebih berbeda, lebih maju, lebih berwarna-warni, lebih rumit, dan tentu saja lebih indah.
Desain tak harus bergambar kepala negara; peristiwa sejarah, pemandangan alam, atau hasil bumi baik pertanian atau sandang yang menjadi trade mark suatu negara sah-sah saja dibuat prangko. Selain itu alat transportasi yang membuat dunia semakin mudah dijelajahi menjadi kecendrungan desain prangko awal abad ke-20. Diawali desain prangko bergambar kapal laut yang muncul di akhir abad ke-19, diikuti desain angkutan darat serta tentu saja perkembangan pos udara setelah perang dunia I semakin bertambah menarik dengan adanya desain prangko bergambar transportasi udara. Inilah awal kecenderungan kearah prangko bertema.
Filateli dan Filatelis
Istilah filateli ditemukan oleh orang Prancis bernama Georges Herpin tahun 1864 dan orang yang mengkoleksi prangko disebut filatelis. Awalnya filateli (berasal dari bahasa Yunani philos artinya kecintaan dan ateleia artinya yang membebaskan pajak) hanya mencakup pengumpulan prangko karena gambar yang bagus dan dicetak terbatas. Tapi dalam perkembangannya semua yang berbau pos menjadi koleksi filateli contohnya Sampul Hari Pertama (First Day Cover).
Filatelis umumnya mengkoleksi prangko berdasarkan asal negara pembuatnya. Tapi perkembangan berikutnya para filatelis mulai mengkhususkan diri pada prangko bertema spesifik seperti tema flora-fauna, dunia kelautan, dan sebagainya. Keanekaragaman desain dan warna membuat prangko bertema menjadi koleksi unik dan berharga bagi para filatelis ini.
Filatelis yang secara khusus mengumpulkan prangko bertema kedirgantaraan akan menemui banyak keanekaragaman desain mulai dari wahana lighter than air atau yang disebut sebagai airship, pesawat terbang pertama The Flyer, pesawat komersial, jet, pesawat sport, helikopter, dan pesawat militer. Penjelajahan antarikasa juga merupakan prangko bertema kedirgantaraan. Saat era perlombaan luar angkasa sedang sengit berlangsung di tahun 1960-an s/d 70-an bermunculan prangko tema ini. Jadi dari selembar prangko yang kecil itu menyimpan cerita dan sejarah tersendiri. Hal inilah yang disebut aspek edukasi atau pendidikan dalam mengkoleksi prangko.
Sisi lain dari filateli adalah bisnis. Prangko langka atau yang dicetak terbatas menjadi incaran filatelis karena harganya suatu saat akan meningkat dengan tajam daripada harga nominalnya. Layaknya benda koleksi, prangko semakin tua maka semakin tinggi harganya.
Prangko Kedirgantaraan termahal, Curtiss JN-4 Jenny melakukan "akrobat di udara"(kiri) bandingkan dengan yang tidak salah cetak(kanan)
Tidak pelak prangko pertama asal Inggris terbitan 1840 itu, Penny Black menjadi prangko termahal dimata filatelis dunia. Sedangkan untuk yang bertema kedirgantaraan, prangko termahal adalah prangko bergambar pesawat biplane Curtiss JN-4 Jenny (lisensi de Havilland DH-4) cetakan 1918 yang dikeluarkan oleh jawatan pos Amerika Serikat menandai lahirnya pos udara setelah perang dunia I bernilai nominal 24 sen dollar. Yang menjadi mahal karena prangko itu salah cetak ! Dalam dunia filateli, prangko dengan kesalahan cetak dapat meningkatkan nilai jual berkali lipat. Pada prangko tersebut kesalahan cetak begitu menyolok karena pesawat pos Curtiss JN-4 Jenny dicetak terbalik layaknya sedang melakukan terbang aerobatik udara ! (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2005)
Sumber pustaka :
- Allan, Angus P., Space 1999 Annual-Space Quest in Stamp, Word Distributors UK, 1975
- Finlay, Ian, Mengumpulkan Prangko, BPK Gunung Mulia, 1982
- Intisari, Majalah Bulanan, "Kisah-Kisah Dibalik Secarik Prangko", Maret 1996
- Reader's Digest Magazine,"Secrets of Britain's Stamp Museum",edisi Juli 1974
Category: by Sudiro Sumbodo FUNFLY JOKES
FUNFLY JOKES
Sebuah pesawat terbang kecil dengan seorang instruktur dan murid didalamnya terhempas ke landasan pacu dan terlambung-lambung berulang-ulang sampai berhenti. Instruktur menoleh kepada murid dan berkata, "Itu pendaratan yang terburuk yang baru kau lakukan."
"Saya ?" jawab si murid. "Saya kira anda yang mendaratkan pesawat."
----
Seorang pelancong dihentikan oleh petugas bea cukai bandar udara dan ditanya apakah ia punya sesuatu untuk dilaporkan. " Tidak, tidak ada," kata pelancong itu.
"Apakah anda yakin ?"
"Tentu saja saya yakin."
"Oke,bagaimana dengan gajah yang berdiri di belakang anda dengan roti pada masing-masing telinganya ?" si petugas mendesak.
"Pak, apa yang saya taruh dalam sandwich saya itu urusan saya sendiri !"
Skydiver ? What skydiver ?
Sebuah airline baru memberikan promosi : "Tiket pesawat gratis untuk setiap anak." Seorang pria berumur 80 tahun datang ke tempat penjualan tiket pesawat dan minta tiket cuma-cuma. "Tiket itu hanya untuk anak saja, Pak," kata penjual tiket.
"Tapi saya anak orang tua saya," jawabnya.
"Baik," kata si penjual tiket, "kalau begitu kembalilah dengan ibu dan ayah Anda."
----
Sepasang burung sedang terbang santai tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah pesawat jet melejit dengan kencang sambil menyemburkan pijaran dan asap tebal dari ekornya.
Wah hebat, seru salah satu burung,Ia cepat sekali !
Itu wajar Bung, jawab yang satunya,kalau ekor-mu terbakar, kamu juga pasti akan terbang secepat itu !
|
|
|
|