• My Article

Keywords
Category 
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19]

Category: Artikel Pilihan


KONFLIK UDARA
ERITREA vs. ETHIOPIA

Perang perbatasan yang singkat namun sengit ini memang luput dari perhatian. Padahal keunikan terjadi saat kedua pihak bertikai sama-sama memakai peralatan militer buatan Rusia. Langit perbatasan Eritrea-Ethiopia menjadi saksi bisu duel Fulcrum vs. Flanker.

MiG29Eritrea

Sejarah Eritrea telah ada sejak 2500 SM. Dinasti D’Mit tahun 800 SM menyatukan kedua wilayah Eritrea dengan Ethiopia dan penggantinya Dinasti Aksum membesarkan menjadi salah satu peradaban tertua di dunia. Ottomann Turki menguasai sejak 1557, sebelum direbut oleh Italia tahun 1885. Italia akhirnya tersingkir saat perang dunia II oleh Inggris.
PBB mengembalikan kedaulatan setelah perang dan menyatukan Eritrea sebagai wilayah federal Ethiopia. Ketidakpuasan terjadi sejak Kaisar Haile Selassie sepihak menganeksasi Eritrea tahun 1962. Perlawanan muncul dan dimulai perang gerilya menuntut Eritrea merdeka. Perang itu semakin menjadi-jadi sejak penggulingan Haile oleh rezim brutal militer Derg pimpinan Mengistu tahun 1974. Eritrean People’s Liberation Front (EPLF) didukung negara-negara Arab plus gerilyawan Palestina sementara junta militer Ethiopia oleh bantuan finansial dan peralatan militer dari Soviet dan Kuba.
Situasi berubah sejak runtuhnya Soviet dan penggulingan Megistu oleh pemberontak pro demokrasi. PBB akhirnya turun tangan dengan mengadakan referendum tahun 1991 yang menghasilkan kedaulatan dan pengakuan kemerdekaan penuh Eritrea tanggal 24 Mei 1993 dengan ibukota Asmara.

ERAF & ETAF
Konflik terjadi kembali ketika Addis Ababa mengklaim tentara Eritrea telah menduduki Badme, wilayah perbatasan kedua negara yang dianggap sebagai teritorialnya tanggal 12 Mei 1998. Perang pecah sebulan kemudian tanggal 3 Juni, kedua pihak sama-sama saling melontarkan artileri.
Dua hari kemudian pagi hari, sepasang fighter-bomber MiG-23BN Ethiopian Air Force (ETAF) menyerang Airport Internasional Asmara. Satu B727 Aero Zambia dan dua hangar hancur. Sementara satu MiG-23 berhasil ditembak jatuh artileri udara Eritrea. Siang hari, Eritrea Air Force (ERAF) membalas dengan mengirim sepasang Aeromacchi MB339 menyerang kota Mekelle, Ethiopia.

Aircraft_ERAF_ETAF
Modal ETAF pertama adalah pesawat latih primer L-90 Redigo (kiri atas) diikuti dua tahun kemudian Aermacchi MB339 (kanan atas) yang berperan besar sebagai pesawat serang saat awal perang Eritrea-Ethiopia. Berkat bantuan AS, ERAF mendapat F-86 Sabre, F-5 Tiger, dan pembom Canberra (kiri bawah). Tapi setelah Ethiopia dikuasai junta militer, ERAF beralih kepada buatan Uni Soviet seperti MiG-23BN (kanan bawah).

Bila dibandingkan dengan ETAF, ERAF jelas bukan apa-apa. Baru dibentuk setahun sebelum kedaulatan Eritrea. Keuangan-pun terbatas. Awal kelahiran hanya bermodalkan beberapa pilot eks Ethiopia dan pesawat latih dasar L-90 Redigo dari Finlandia. Baru tahun 1994, Eritrea membeli 4 unit Harbin Y-12 dari Cina sebagai angkut ringan dan tahun 1995 membeli 6 pesawat latih lanjut / light attack MB339 dari Italia.
ETAF ? Didirikan tahun 1929, bermodalkan beberapa Potez 25 biplane. Kekuatan bertambah sejak 1935 tapi musnah ketika fasis Italia mencaplok Addis Ababa, 5 Mei 1936. ETAF kembali bangkit setelah perang dunia. Tahun 1946, Inggris menyuplai Hawker Firefly dan Swedia dengan Saab B17. Personilnya pun dilatih di berbagai negara seperti India, Yugoslavia, dan Israel.
ETAF semakin mantap dengan bantuan Amerika. Periode 1953-1967, AS menyuplai satu skuadron C-47 Dakota, pesawat latih jet T-33, dan 3 lusin lebih pemburu F-86F Sabre. ETAF menjadi salah satu angkatan udara yang paling diperhitungan di benua Afrika saat itu. Ethiopia sempat mengirim beberapa Sabre di Kongo, dibawah panji PBB periode 1961-1962. Kekhawatiran terhadap berkembangnya kekuatan militer negara tetangga Somalia menjadi alasan pembelian 30 Northrop F-5A dan F-5E Tiger, selusin Cessna A-37 Dragonfly dan beberapa unit pembom Canberra. Selain dipersiapkan untuk menghadapi Somalia, pesawat tempur ini juga dikerahkan untuk menghadapi gerilyawan Eritrea mulai Desember 1970.
Pemerintahan baru hasil kudeta, yaitu junta militer Derg tidak menyurutkan serangan terhadap basis gerilyawan Eritrea. Tapi sayang Amerika mengembargo yang menyebabkan banyak pesawat tempur grounded. Situasi semakin ruwet saat Somalia menyerang perbatasan Ethiopia tahun 1977. Melihat keadaan tersebut Soviet dan Kuba memulihkan hubungan diplomatik dengan Ethiopia seraya mengirim MiG-21bis, MiG-23, dan heli tempur Mi-24. Segera setelah serangan Somalia bisa dipatahkan, ETAF mengirim pesawat tempur Soviet itu ke Eritrea.
Meskipun didukung angkatan udara yang sangat memadai, Ethiopia tidak bisa mengalahkan gerilyawan Eritrea secara telak. Ini berlangsung berlarut-larut sampai menghabiskan anggaran negara yang menyebabkan pemberontakan rakyat Ethiopia dengan payung militer Ethiopian People’s Revolutionary Democratic Front (EPRDF). Rezim Derg kembali semakin melemah akibat penarikan besar-besaran personil Soviet dan Kuba akhir 1980-an. Akhirnya setelah perjuangan selama 16 tahun, EPRDF berhasil menggulingkan rezim diktator tanggal 28 Mei 1990 dan berkat EPRDF juga Eritrea diperbolehkan menentukan nasibnya sendiri lewat referendum.

Fulcrum vs. Flanker
“Pembersihan besar-besaran” pengikut rezim Derg oleh pemerintahan yang baru membuat ETAF hancur. Banyak pilot membelot berikut pesawatnya ke negera tetangga termasuk ke Eritrea. Pesawat yang masih ada pun berstatus unserviceable dan unflyable.
Untuk memulihkannya awal 1998, Addis Ababa menyewa instruktur dan pesawat latih L-39 Albatros dari Bulgaria untuk melatih pilot baru. Israel mengulurkan tangan untuk meng-upgrade puluhan MiG-21 dan MiG-23 Ethiopia yang rusak. Perusahaan eksportir senjata Rusia-Ukrania, Rosvoorouzhenie mendatangkan lebih banyak MiG-21 eks blok Timur dan heli tempur Mi-35. Belum cukup juga, ETAF memperoleh 10 unit Su-27SK Flanker baru, lengkap dengan pilot bayaran asal Rusia.
Kedatangan Flanker membuat Eritrea gugup. Walaupun pesawat MB339 sukses mendukung angkatan darat Eritrea pada bulan Mei dan Juni 1998, jelas bukan lawan seimbang Flanker. Lewat Rosvoorouzhenie juga tapi dari pihak Ukrania, ditandatangani pembelian 10 unit MiG-29A Fulcrum bekas pakai AU Ukrania. Instruktur Ukrania didatangkan untuk melatih pilot ERAF. Pembelian pesawat canggih oleh Eritrea maupun Ethiopia ini terjadi saat kondisi vakum beberapa bulan pertempuran untuk perundingan yang disponsori Organization of African Unity (OAU) dan Uni Eropa.

MiG29Su27

Duel Fulcrum vs. Flanker terjadi. Lima MiG-29A Fulcrum Eritrea rontok oleh Su-27SK Flanker Ethiopia.

Karena perundingan buntu, mulai Februari 1999 pertempuran hebat terjadi kembali. Kedua pihak sama sama menggunakan kekuatan pesawat dan heli tempur untuk membombardir posisi lawan. Tanggal 25 Februari pertempuran Fulcrum vs. Flanker terjadi. Empat unit MiG-29 diperintahkan untuk menyergap dua Su-27 Ethiopia di atas Badme. Malang, kualitas pilot bayaran Rusia lebih unggul daripada yang diduga. Sebuah MiG-29 malah menjadi korban rudal AA-11 yang ditembakan Flanker.
Duapuluh empat jam kemudian, dogfight Fulcrum vs. Flanker kembali terjadi, kalau bisa dibilang unik karena sang pilot Flanker adalah wanita ! Capt. Asther Tolossa, penerbang Ethiopia terbang dengan sebuah Flanker mengawal beberapa MiG-21. Ia memergoki sebuah MiG-29 versi latih sedang melakukan tes terbang yang dipiloti seorang instruktur Ukrania di atas Asmara. MiG-29 yang tak bersenjata itu akhirnya ditembak jatuh dengan kanon 30 mm setelah Tolossa gagal menembak jatuh dengan rudalnya.
Kehilangan dua Fulcrum ini menyebabkan penasihat Ukrania meminta pilot MiG-29 menghindari duel dengan Flanker. Tapi tetap saja Asmara keras kepala, apalagi setelah fighter-bomber MiG-21 dan MiG-23 (dengan pengawalan Su-27) dengan mudahnya membom wilayah Eritrea tanpa ada satupun perlawanan dari ERAF. Hasilnya tidak berubah, Flanker lebih unggul. Tercatat tertembak jatuhnya dua Fulcrum tanggal 20 Maret 1999. Sebuah Fulcrum terpaksa crash landing akibat terkena rudal Flanker tanggal 16 Mei 2000. Dua hari kemudian lagi-lagi sebuah Fulcrum menjadi korban Flanker pengawal walaupun sempat menembak jatuh sepasang MiG-21 Ethiopia.

Hasil Akhir
Akibat tekanan dunia Internasional pula tanggal 18 Juni 2000, tercapai kesepakatan gencatan senjata. Meskipun kata damai masih jauh dari yang diharapkan, perang ini benar-benar menghancurkan ekonomi kedua negara. Perbatasan yang disengketakan Eritrea-Ethiopia dijaga oleh PBB sebanyak 5,000 tentara demi mempertahankan perdamaian yang labil itu.
Ketika konflik pecah untuk kedua kalinya, pengamat militer terkejut akan keberanian kedua negara miskin ini untuk menjajal pesawat tempur canggih dalam pertempuran udara. Penerbang Su-27 asal Rusia dan Ethiopia tampaknya masih menggunguli pilot MiG-29 Eritrea, didikan instruktur Ukrania. Mengejutkan juga bahwa pilot ERAF tidak memanfaatkan keunggulan turning fight jarak dekat Fulcrum untuk mengalahkan Flanker yang berdimensi lebih besar. Miskin pengalaman mungkin menjadi sebab utama. Satu lagi yang perlu dicatat bahwa sebagian besar Fulcrum ditembak jatuh dengan rudal heat seeker AA-11 (R-73). Sementara saat Flanker menembakkan rudal radar guided AA-10 (R-27) banyak yang luput. Situasi sama dialami Amerika ketika perang Vietnam dengan rudal radar guided AIM-7 Sparrow-nya.
Kualitas penerbang Flanker ternyata tidak setara dengan kualitas penerbang ETAF lainnya. Pilot veteran yang lolos dari "pembersihan besar-besaran" era 1991 diprioritaskan menerbangkan Su-27 sedangkan yang baru lulus menerbangkan MiG-21, MiG-23, dan helikopter. Hasilnya, beberapa pemboman sering gagal menghajar target dan lainnya ditembak jatuh akibat meremehkan artileri udara Eritrea. Tapi ETAF lebih sering kehilangan fighter bomber-nya akibat kesalahan navigasi. Banyak penerbang MiG-21 dan MiG-23 nyasar dan eject karena kehabisan bahan bakar. Nasib setali tiga uang dialami pilot heli tempur Mi-35 yang karena kesalahan navigasi malah mendarat di wilayah yang dikuasai musuh ! (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2006)

Sumber Pustaka :
  1. Flight International Magazine,"World Airforce Directory", edisi 26 November - 2 Desember 2002
  2. William Green and Gordon Swanborough,The Complete Book Of Fighters, London : Greenwich Editions, 2004
Sumber Internet :
  1. Different African Air-to-Air Victories
  2. Ethiopia and Eritrea, 1950-1991
  3. Exotic Fulcrum
  4. II Ethiopian Eritrean War, 1998 - 2000
  5. Striking Flanker 1
  6. Striking Flanker 2

Category: Artikel Box


BATTLE MAP ERITREA vs. ETHIOPIA


Battle Map



Category: Artikel Box


KEKUATAN ERAF & ETAF PASCA PERANG

TabelERAF

TabelETAF