• My Article

Keywords
Category 
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19]

Category: Artikel Pilihan


JACQUELINE AURIOL :
PENERBANG PEREMPUAN
SUPERSONIK PRANCIS


Melarikan diri dari kehidupan sosial sebagai anggota keluarga Kepresidenan, membuatnya menemukan jati diri baru nun jauh di angkasa. Tragedi kecelakaan tidak serta merta membuatnya mundur malah semakin memicunya membuat serangkaian prestasi dan rekor di angkasa.

Auriol_MirageIII

Lahir pada tanggal 5 November 1917 dengan nama Jacqueline Marie-Therese Suzanne Douet di Challans, Perancis sebagai anak dari pengusaha sukses importir kayu dan pembuat kapal Douet. Setelah menjalani pendidikan di perguruan tinggi di Nantes, ia lalu melanjutkan pendidikan seni di Ecole du Louvre di Paris.
Pada tahun 1938, ia menikah dengan Paul Auriol, putra dari Vincent Auriol, seorang pemimpin terkemuka partai Sosialis Perancis saat itu. Saat pecah Perang Dunia II, Jacqueline Auriol telah memiliki dua anak yaitu Jean-Claude dan Jean-Paul, menolak terlibat dalam pemerintahan boneka Vichy bentukan Nazi dan melarikan diri dari kejaran Gestapo serta bergabung dengan gerakan gerilya bawah tanah Perancis (France Resistance).
Setelah perang berakhir tidak lama kemudian pada Januari tahun 1947, Vincent Auriol ikut dalam pemilihan calon presiden Perancis dan Paul ditugaskan sebagai juru bicara kampanye sedangkan Jacqueline terlibat di dalam aktivitas sosial pendukung kampanye di Palais Elysee. Sebagai ' pasangan paling populer di Perancis ', mereka sering diundang untuk resepsi-resepsi besar, gala dinner dan acara politik lainnya. Pada waktu senggang mereka berdua melakukan kursus terbang.
" Saat pertama melakukan terbang pada pertengahan tahun 1947, kami berdua hanya memikirkan terbang hanya sebagai olahraga baru, sama menariknya dengan mengendarai mobil sport atau berski, tidak lebih dari itu….".
Sikap Jacqueline Auriol terhadap kegiatan terbang kemudian berubah saat ada tuduhan tidak benar terhadap Vincent Auriol khususnya soal pendanaan kampanye. Tuduhan itu jelas untuk menjatuhkan karir politik Vincent Auriol yang sedang menajak pesat. Karena itu Jacqueline Auriol semakin menghindari dan mengurangi kehadiran di berbagai macam acara sosial dan jamuan resmi lainnya dan sebagai gantinya semakin menambah dan meningkatkan kualitas terbang terutama untuk mendapatkan lisensi terbang.
"Aku mendapatkan lisensi pemula brevet terbang kelas I pada Maret 1948 dan memperoleh lisensi tingkat lanjut/brevet terbang kelas II enam minggu kemudian. Ambisiku adalah menerbangkan banyak dan beragam pesawat terbang lainnya termasuk milik AU Perancis, untuk itu jelas memerlukan lisensi pilot militer".
Beberapa persyaratan untuk mendapatkan lisensi pilot militer adalah kemampuan terbang aerobatik. Dari sinilah ia mengenal instruktur terbang, pilot aerobatik dan instruktur terbaik seluruh Perancis, Raymond Guillaume. Kemudian hari sebenarnya Guillaume mengaku sebenarnya ia takut bahwa ambisi Jacqueline Auriol melakukan terbang aerobatik hanya sebagai tindakan pamer dan emansipasi wanita tetapi tetap menyanggupinya karena yakin atas kemampuan sang murid ternyata sangat berkualitas.
Latihan untuk aerobatik sebenarnya hanya selama 10 sampai 15 menit tetapi Guillaume malah melatihnya secara maraton sampai satu jam penuh, melakukan segala manuver aerobatik dengan tidak lupa mengecek keadaan belakang tempat Jacqueline Auriol duduk lewat kaca spion kokpit. Melalui interkom untuk mengetes kesadaran Jacqueline Auriol, ia selalu menanyakan apakah baik-baik saja dan setiap bertanya, ia menjawab, "Ini menakjubkan !"
"Benar-benar menakjubkan ! Saat loop pertama, aku melihat bahwa daratan tiba-tiba digantikan oleh angkasa yang ada diatas kepalaku…Setelah loop, Guillaume melakukan setengah loop dikuti setengah roll, kembali lagi daratan berganti menjadi angkasa dan garis horizon naik, menghilang dan muncul lagi dalam bentuk diagonal…tiap pergantian gambaran saat aerobatik aku selalu berkata : Ini hebat, Ini menakjubkan dan hatiku penuh dengan rasa bahagia….".
Setelah beberapa lama berlatih dan mengikuti seluruh program termasuk saat mengatasi keadaan kritis di udara, Guillaume berkata : "Nah Jacqueline, lakukan semuanya sekarang. Sendirian." Dengan hati berdebar, tenggorokan kering dan tangan berkeringat, ia mendorong throttle dan take off. Pertama kalinya terbang solo untuk terbang aerobatik. Dalam hati bergumam "Ini gila dengan umurmu dan ibu dari dua orang anak, terbang melakukan aerobatik berbahaya." Akhirnya saat di udara saat pertama kali melakukan dive, seluruh ketakutan sirna dan kejadian yang sama terulang kembali.
"Ini menakjubkan. Irama, pengaturan tempo, kecepatan…Aku merasa pesawat, angkasa, dan diriku menjadi satu. Daratan seolah-olah menghilang. Aku telah menaklukan kerajaanku, kerajaan dimana aku sendirian bagaikan angin dan meraih kebebasan ".
Setahun kemudian Jacqueline Auriol terbang di berbagai kesempatan dan menunjukan kebolehan aerobatik di depan masyarakat di Auxerre pada tanggal 3 Juli 1949 setelah mempersiapkan segalanya selama dua bulan. Pertunjukan aerobatik itu sukses dan bagus bahkan sang instruktur menyatakan demikian hingga delapan hari kemudian ….

Kecelakaan
Pada tanggal 11 Juli 1949, Jacqueline Auriol ikut terbang dengan pesawat sea-plane kecil ditemani pada kursi belakang, Guillaume dan perwakilan dari perusahaan pesawat tersebut. Rencananya mereka akan melakukan pendaratan percobaan di atas sungai Seine dekat Les Mureaux. Ia mulai mencium ketidak beresan ketika pilot mendarat dengan membelakangi arah angin. Dan ternyata firasatnya benar adanya. Pesawat mendarat di air dengan benturan kuat dua kali. Wajah dan badan Jacqueline Auriol yang duduk disamping pilot langsung menghantam panel kokpit dengan keras. Kecelakan itu membuat wajahnya rusak. Sebagian besar gigi rontok, urat muka penghubung tulang rahang, pipi, hidung rusak, lekuk mata telah putus, bola mata masuk kedalam, tulang tengkorak retak pada tiga tempat, serta dengan tulang iga, sebelah tangan dan kaki patah.
"Dalam beberapa detik saja, saya menyadari bahwa ' wanita tercantik di seluruh Paris ', julukan yang diberikan pers padaku, kini wajahnya cacat berat…."
Ia mengalami pendarahan yang baru berhenti setelah beberapa hari. Dokter berjuang keras untuk memperbaiki wajah dengan memasang perban dagu dan helm muka. Satu pertanyaan yang selalu diucapkan pada dirinya dan juga anggota keluarganya yang menjenguknya saat itu adalah "Masih dapatkah saya terbang ? " tetapi tidak ada satupun yang sanggup mengatakan ya padanya. Toh pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika ia mulai pulih meskipun tidak untuk bagian wajah. Ketika dijengguk oleh sang instruktur, Guillaume mengajaknya untuk pergi ke Villacoublay, tempat Jacqueline Auriol dulu belajar aerobatik. Sebuah pesawat ringan tipe Fairchild dengan 4 tempat duduk menunggu mereka disana. Dengan dibantu Guillaume disampingnya, ia duduk di kokpit pilot dan seraya berkata, "Ayo Jacqueline, saatnya beraksi lagi." Dan ia pun beraksi kembali.
"…tanpa ragu-ragu kustel mesin dan ketika hidup,saya juga merasa hidup untuk pertama kalinya sejak musibah itu. Aku lepas landas manis sekali,langit sedikit berawan,tamasya sejenak tanpa goncangan. Tanpa aerobatik, karena aku tidak berminat. Saya hanya ingin mendengar nyanyian mesin dan sekali lagi melihat langit dan bumi karena aku menyenanginya…."
Setelah mendarat sambil terharu Guillaume berkata, "Kondisimu sudah pulih. " Ya, sekarang ia tahu bahwa ia dapat terbang dan sekaligus pula awal Jacqueline Auriol melakukan prestasi besarnya.
Untuk memperbaiki muka Jacqueline Auriol yang rusak berat, dokter-dokter spesialis di Perancis angkat tangan sampai ia berkenalan dengan Dr. Gustave Ginestet. Ginestet berhasil menyatukan tulang muka yang retak selama dua bulan tetapi JA masih belum memiliki hidung, tulang pipi dan dagu utuh. Sang dokter merekomendasikan untuk bertemu dengan Dr. Converse, seorang dokter bedah plastik asal Amerika Serikat. Dan Jacqueline Auriol berangkat ke New York pada bulan September 1950 dan selama 3 tahun serta 16 kali operasi melakukan perbaikan wajah. Selama menjalani operasi, ia mengisi waktu mendapatkan lisensi terbang helikopter selama sebulan yang khusus disediakan oleh presiden direktur Lawrence "Larry" Bell. Jacqueline Auriol pulang ke keluarga yang telah merindukannya pada tanggal 23 Januari 1951.
Kecelakaan itu tidak mengendurkan semangat Jacqueline Auriol, malah semakin menguatkan hasratnya untuk hidup dan terbang. Ia telah memenangkan perjuangan terhadap terhadap penderitaan dan hambatan dan dalam proses itu berlangsung muncul suatu impian : menjadi penerbang profesional. Sewaktu rehabilitasi wajah di Amerika, salah satu tamu yang menjenguknya adalah Kasau Perancis Marsekal Charles F. Lachere. Jacqueline Auriol memberanikan diri untuk memintanya memberikan ijin, mencoba memecahkan rekor kecepatan dengan salah satu pesawat jet AU Perancis yaitu DH 115 Vampire.

Mistral_Bretigny
Jacqueline Auriol mengalahkan rekor Cochran dengan pesawat tempur Sud-Est SE 530 Mistral, lisensi DH115 Vampire buatan Inggris(kiri) di atas lanud Bretigny-sur-Orge, Istres, Perancis Selatan(kanan).

Jawabannya ternyata positif dan setibanya di Paris, ia menyodorkan rencana kepada sang instruktur. Untuk tercatat dalam rekor resmi FAI (Federasi Aeronautika Internasional), Jacqueline Auriol harus terbang sepanjang 100 km lintasan melingkar dengan lebar sekitar seperempat mil pada ketinggian 35,000 kaki. Jika menyimpang terlalu jauh atau terlalu dekat maka akan didiskualifikasi. Jacqueline Auriol harus terbang dalam "gelanggang khusus imajiner" ini sehingga alat pencatat resmi FAI bisa mencatat kecepatan resminya. Guillaume melatihnya selama beberapa minggu, 14 kali latihan dengan menekankan pada pemecahan rekor kecepatan di sirkut tertutup di landasan Istres milik perusahaan swasta Flight Testing Center Bretigny-sur-Orge, Istres, Perancis Selatan.
Sebelumnya rekor itu berhasil diciptakan oleh Jacqueline Cochran tahun 1947 dengan pesawat pemburu bermesin piston P-51 Mustang dengan kecepatan 469,54 mph. Menurutnya ia akan berhasil mematahkan rekor Cochran karena yakin atas kemampuan pesawat jet yang memiliki kecepatan lebih tinggi daripada Mustang. Tanggal 11 Mei momen yang dinanti-nantikan tiba, sore hari sebuah DH 115 Vampire berwarna perak siap di landasan Istres. Setelah take off, harus menempuh lintasan sirkut melingkar (circular course) 100 km diatas Avicnon. Limapuluh kilometer diselesaikan lalu kembali dengan membelok 180 derajat.
Waktu yang ditempuh Jacqueline Auriol dalam penerbangan ini adalah 7 menit 20 detik dan dengan kecepatan terbang 508.39 mph yang berhasil mencetak rekor kecepatan perempuan Internasional. Hasilnya adalah penyerahan penghargaan Harmony Trophy, penghargaan tertinggi kepahlawanan di bidang aeronautika dari tangan Cochran dan diserahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Harry S. Trumman pada tahun 1952.
"Akan tetapi ada penghargaan lain lagi yang membuatku gembira. Ketika keluar dari kokpit Vampire sore itu, salah seorang penerbang penguji menyematkan wing terbangnya di dadaku dan ini berarti mereka tidak berkeberatan menerima kehadiranku--sebagai seorang perempuan--seprofesi dengan mereka."
Meskipun telah menjadi penerbang profesional keinginan Jacqueline Auriol lebih lanjut adalah menjadi test pilot / penerbang penguji. Louis Bonte sebagai pimpinan Bretigny secara tidak langsung mendukungnya tapi Jacqueline Auriol harus mengikuti pendidikan test pilot selama dua tahun. Jelas bukan pekerjaan ringan. Satu tahun latihan diikuti ujian dan satu tahun berikutnya diadakan ujian terakhir yang terberat yang menentukan dapat tidaknya ia diterima sebagai test pilot secara penuh.
"Oleh karena itu, umur 35 tahun, saya kembali ke sekolah. Tiap pagi selama 8 bulan mengikuti pelajaran teori, mempelajari matematika, fisika, trigonometri, dan daftar logaritma. Sorenya berlatih terbang. Ketika pulang seorang guru telah menunggu memberikan bimbingan matematika. Kehidupanku seperti orang tahanan. Disana saya bergulat dengan rumus-rumus persamaan dan grafik-grafik ilmu pasti yang telah menjadi simbol kehidupanku yang baru."
Jernih payahnya membawakan hasil, Jacqueline Auriol lulus ujian. Ia secara resmi diterima menjadi sekolah penerbang penguji, satu-satunya perempuan diantara 7 pria. Dan dimulai jadwal-jadwal rutin setiap hari : 3 jam teori tiap pagi diikuti 1 jam berikutnya berdiskusi mempersiapkan latihan terbang menjelang sore hari. Latihan terbang untuk memahirkan diri dalam melakukan tahap-tahap pengujian standar yang nantinya harus dipraktekan pada pesawat-pesawat eksperimental / prototipe.
Latihan ini perlu dilakukan berulang-ulang kali agar mahir sekali. Dan akhirnya…ujian akhir setelah delapan bulan yang melelahkan. Dia lulus ! Jacqueline Auriol telah menjadi Test Pilot No.29 satu-satunya penerbang penguji perempuan pertama di dunia.
"Dan salah satu kepuasanku terbesar adalah kolegaku yang laki-laki tidak menaruh perhatian khusus. Saya telah dianggap sebagai bagian dari dunia mereka; mereka segera lupa bahwa aku sebenarnya perempuan. Saya belum pernah merasa lebih bahagia dari saat ini, berulang kali saya bersyukur atas kecelakaan yang terjadi. Karena tanpa kecelakaan itu aku mungkin tak akan memperoleh keberanian dan kekuatan merintis jalan memasuki suatu lingkungan profesi yang sangat menuntut keperkasaan…."

The War
Periode 1951-1963, Jacqueline Auriol berhasil memecahkan rekor kecepatan Jacqueline Cochran sebanyak 5 kali dengan 4 diantaranya sebagai penerbang uji dan sebaliknya ia dibalas oleh Cochran, dikalahkan sebanyak 5 kali pula.
Jacqueline Auriol dengan menggunakan pesawat Mistral berhasil menumbangkan rekor atas namanya pada tanggal 21 Desember 1952. Tanggal 18 Mei 1953 Cochran membalas dengan menukikan Canadair F-86 Sabre dari ketinggian 45,000 kaki memecahkan kecepatan suara (Mach 1) diatas pangkalan AU Edward, California. Tanggal 3 Agustus 1953, Jacqueline Auriol menyusul menjadi perempuan kedua yang berhasil terbang supersonik dengan menukikan Dassault Mystere IVA, melakukan sonic boom diatas Istres. Ia kembali mematahkan rekor kecepatan Cochran saat terbang dengan Mystere IVN tanggal 31 Mei 1955.
Terjadilah dengan apa yang disebut pers Barat, The War of Two Jacqueline--suatu sebutan yang sama-sama tidak disukai baik Cochran maupun Jacqueline Auriol. Kenapa ? Pertama, istilah The War yang tidak cocok menggambarkan kompetisi persahabatan dan profesional antar mereka. Kedua, untuk memecahkan rekor penerbangan bukan semata pilot vs. pilot, melainkan membutuhkan banyak orang-orang yang terlibat didalamnya.
Sebagai contoh ketika Jacqueline Auriol berusaha memecahkan rekor kecepatan Cochran pada tanggal 15 Juni 1962 dengan pesawat tempur Mirage IIIC. Berbeda dengan Vampire terdahulu, untuk menempuh circular circuit sejauh 100 km, jelas Mirage dengan kecepatan supersonik tidak akan bisa membelok secara efektif dengan rudder ekor. Maka untuk membelok 180 derajat, Jacqueline Auriol harus menempuh penerbangan dalam bentuk kurva seperti buah pir.
Lintasan dapat terwujud dengan radius putaran sejauh 25 km melalui titik-titik tertentu (check point) didarat seperti menara gereja, menara telekomunikasi, dan lainnya. Sebanyak 23 ahli dikerahkan untuk membantu Jacqueline Auriol diantaranya : ahli mesin, pencatat waktu, dan operator radar.
Rencananya ia harus terbang diluar titik-titik itu, saat membelok harus diusahakan agar tidak menyimpang terlalu jauh dari titik tersebut karena bila menyimpang terlalu jauh berakibat semakin besar jarak yang ditempuh dan implikasinya waktu terbang akan bertambah lama sehingga mengurangi rekor kecepatan terbang yang dikehendaki. Ini merupakan tugas pengawas penerbangan, Francis Lionnet untuk memberitahu secara tepat kapan harus membelok lewat layar radar sedangkan Jacqueline Auriol hanya bergantung secara visual dan instrumen panel. Ia segera menyadari bahwa kembali dapat dengan mudah mengalahkan rekor kecepatan 784.34 mph milik Cochran, karena Mirage-nya selama satu minggu latihan dapat menempuh 1,054 mph, tapi Jacqueline Auriol yakin masih mampu berharap lebih.

Auriol_MirageIIIC
Jacqueline Auriol setelah memecahkan rekor FAI dengan Mirage IIIC "Azur 21."

Tanggal 22 Juni adalah hari penentuan.Titik masuk dan titik keluar adalah sama yaitu Istres. Pagi hari Jacqueline Auriol take off dan segalanya berjalan lancar sampai pembelokan diatas Arles, ia melakukan kesalahan yaitu membelok terlalu tajam dan gagal membentuk lintasan yang dikehendaki.
Dia didiskualifikasi.
Pukul 16.30, mereka kembali kelapangan terbang, mencoba untuk terakhir kalinya untuk hari itu. Jacqueline Auriol terbang mencapai ketinggian 20,000 kaki dengan kecepatan Mach 1 sampai ke 38,500 kaki terbang mendatar lalu menuju Istres, titik masuk. Lewat radio para insinyur uji terbang memerintahkan menambah kecepatan. Jacqueline Auriol menarik throttle kebelakang. "Course 245, afterburner menyala," kata Jacqueline Auriol melapor. "Sekarang kita mulai."
Lewat layar radar Lionnet mengawasinya dan mulai bicara,"Azur 21, lima derajat kekanan. Anda berada pada jarak 20 km dari titik masuk." Dengan kecepatan 1,240 mph, ia melesat maju seraya melaporkan ketinggian. Berdasarkan peraturan Internasional, pesawat harus keluar dari lintasan pada ketinggian sama atau lebih guna mencegah pilot menukik ketika keluar yang dapat menaikan kecepatan sekaligus memecahkan rekor secara tidak sah.
Segalanya berlangsung secepat kilat. Lionnel berteriak, "Azur 21, Course 270". Mirage agak kekiri dan segera dibetulkan. Sekali lagi terdengar suara Lionnel, "Azur 21, bersiap membelok." Dalam pesawat dengan kecepatan supersonik menempuh lintasan berdimeter kecil jelas sangat melelahkan. Terus memegang tongkat kemudi, menggerakan kedepan dan belakang, mengawasi instrumen, dan sekaligus mengikuti instruksi pengawas penerbangan dengan segera. "Azur 21, menjauh-menjauh." Throttle dikurangi sedikit sehingga kecepatan berkurang 200 mph. "Azur 21 let's her go ! It's good !
Enam km dibelakang dengan kecepatan nyaris 2,000 kph, sudah menghabiskan berapa lama ? Terdengar teriakan Lionnet penuh kegembiraan, "Titik keluar !" Dari nada riang Lionnet, Jacqueline Auriol yakin telah berhasil.
Hanya 23 menit berlalu sejak take off ,sementara untuk memecahkan rekor hanya membutuhkan 3 menit 29 detik. Para insinyur segera mengucapkan selamat kepada Jacqueline Auriol segera setelah mendarat. Angka resmi yang diperolehnya adalah 1,149.90 mph lebih baik 365 mph milik Cochran.
"Rekor yang membuat kami semua bangga, dan petang itu pula seluruh tim dan kawan-kawan berkumpul di base. Kami merayakan kemenangan dan kesuksesan yang bukan miliku seorang, melainkan milik kami semua."

Penutup
Ia mencetak rekor kecepatan terbaik 1,225 mph dengan mengandalkan pemburu-pengintai Mirage IIIR pada tanggal 14 Juni 1963, sementara pesaingnya Jacqueline Cochran mengalahkannya dengan 1,303.241 mph menggunakan Lockheed F-104G Starfighter dilanjutkan pemecahan rekor kecepatan wanita Internasional 1,429 mph 9-mil lintasan lurus tanggal 4 Mei 1964. Selain pemburu buatan Dassault, Jacqueline Auriol juga menerbangkan pesawat supersonik lainnya seperti Sud-Aviaton Concorde.
Ia meraih penghargaan Harmon Tropy sebanyak tiga kali (tahun 1952, 1953, dan 1955), Paul Tissander Diploma (1953), The Gold Air Medal (1963), La Grande Medaille de L'Aero Club de France (1963), dan medali militer tertinggi Perancis Legion d'Honneur atas prestasi serta rekor besarnya itu.
Pensiun dari penerbang uji, Jacqueline Auriol bekerja di Ministère de la Coopération, membangun proyek penginderaan jarak jauh via satelit untuk keperluan pertanian. Ia dianugrahi Ceres Medal dari FAO atas kontribusi besarnya.
Buku biografinya, "Jacqueline Auriol Vivre et Voler," diterbitkan tahun 1968 dan karyanya ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Pamela Swinglehurst, "Jacqueline Auriol I Live to Fly," dua tahun kemudian.
Jacqueline Auriol penerbang perempuan supersonik Perancis meninggal dunia pada tanggal 11 Februari 2000.(Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2003)


Sumber Pustaka :
  1. Angkasa, Majalah Bulanan, "Aku Test Pilot Wanita Pertama di Dunia", No.3 November 1987
  2. Angkasa, Majalah Bulanan, "Jackie Cochran : Wanita Tercepat", No. 7 April 1993
  3. Angkasa, Majalah Bulanan, "Neil R. Anderson : Berawal Dari Satu Tantangan", No. 12 September 1996
  4. Reader's Digest Magazine,"I Live to Fly", edisi November 1970
  5. William Green and Gordon Swanborough,The Complete Book Of Fighters, London : Greenwich Editions, 2004
Sumber Internet :
  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Jacqueline_Auriol
  2. http://aerostories.free.fr/pilotes/france/auriol/page2.html

Category: Artikel Box


AURIOL's AIRPLANE



AuriolAirplane


(A) Stampe & Vertongen SV4C biplane -tipe pesawat latih primer yang membuat Jacqueline Auriol tergila-gila akan terbang.
(B) SCAN 30 - merupakan prototype pesawat amphibi 4 penumpang yang nyaris membuatnya tewas.
(C) Dassault Mystere IVA - dengan fighter-bomber ini, Jacqualine Auriol berhasil terbang supersonik untuk pertama kalinya.
(D) Dassault Mirage IIIR - merupakan varian recon/intai dari pemburu Mirage IIIC, dan Jacqualine Auriol berhasil mengujinya sampai kecepatan maks. 1,225 mph.



Category: Artikel Box


TUGAS PENERBANG UJI/TEST PILOT


Adalah untuk menguji (to verify) desain pesawat dan perlengkapannya sebagaimana yang diinginkan perancang pesawat terbang. Perancang harus diyakinkan apakah flight dynamic dari pesawat itu benar, strukturnya cukup kuat, seluruh sistem bekerja sebagaimana mestinya, termasuk performa pesawat itu sendiri seperti kecepatan maksimum, rate of climb, stall speed, dan sebagainya. Jadi memecahkan rekor jarak, kecepatan, dan ketinggian boleh disebut sebagai "efek samping" dari pekerjaan.
Sulit ? Itu tergantung dari cara pandang kita. Bagi orang awam mungkin pekerjaan sulit tapi bagi penerbang uji yang telah makan asam-garam menerbangkan berbagai macam jenis dan tipe pesawat, ratusan bahkan ribuan jam terbang adalah sebuah rutinitas. Tidak heran bila umumnya mereka-mereka ini berumur diatas 30 tahun dan mendapat pelatihan atau sekolah khusus penerbang penguji. Beberapa diantaranya bahkan memiliki titel insinyur. Seperti yang pernah dikatakan Neil Anderson, test pilot terkenal dari General Dynamics (nantinya menjadi Lokheed Martin), titel insinyur itu berguna agar pilot penguji dapat berbicara dalam bahasa yang dapat dimengerti si perancang.
Selain menerbangan pesawat eksperimental maupun prototipe, mereka juga menguji pesawat modifikasi misalnya penambahan senjata, memasang mesin baru, pemasangan peralatan elektronik dan avionik khusus dan sebagainya. Penerbang uji inilah yang mengungkapkan kepada perancang misalnya apakah performa pesawat menjadi jauh menurun atau malah sebaliknya.
Pekerjaan berbahaya ? Lagi-lagi itu tergantung dari cara pandang kita. Penerbang uji bukanlah seorang “pilot dare devil” maupun “pilot kamikaze legal”, meskipun terlihat demikian. Bila seorang pilot mencegah agar pesawatnya tidak mengalami stall / kehilangan daya angkat, mereka malah harus melakukannya. Bila seorang pilot menyebut keadaan spin / dapat menyebabkan pesawat kehilangan kendali sebagai suatu bencana, mereka "mengakrabinya". Semua itu dilakukan seorang penerbang uji untuk memastikan kehandalan, keamanan produk dan juga secara langsung nantinya membuat laku produk tersebut. Pengalaman penerbang penguji memang sering kali menolong ketika pengujian tiba-tiba berjalan dengan tidak semestinya.
Ini pernah dialami Jacqueline Auriol dengan Mystere IVA berlatih melakukan sonic boom berikutnya di Munich, Jerman. Kontrol stabilizer macet ketika menukik dan dalam kecepatan tinggi menyebabkan, Mystere berputar-putar kebawah dan mengalami tailspin yang sangat berbahaya. Ia sempat mengalami black out selama 30 detik sebelum akhirnya siuman dan dapat me-recovery, hidung pesawat berhasil mendongak keatas hanya beberapa meter saja dari tanah !
Dalam biografinya Jacqueline Auriol menyatakan secara eksplisit betapa ia mengkhawatirkan bahaya dan kematian yang telah siap merengut bila melakukan kesalahan sedikitpun. Tapi secara puitis pula ia mengenang keakraban dan kekompakan sesama penerbang uji, mereka saling memberikan spirit layaknya persaudaraan sejati.