• My Article

Keywords
Category 
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19]

Category: Artikel Pilihan


SEPAK TERJANG SANG KERBAU
DI NEGERI SERIBU DANAU


Pabrik Brewster di Long Island mengharapkan pesawat tempur ini menjadi tulang punggung pertahanan udara dan laut pasukan Sekutu di Pasifik. Nasibnya malang saat pecah perang, ia menjadi korban pembantaian korps udara Matahari Terbit.

Buffalo_Juttilainen

Dunia penerbangan militer mengenal sepasang pesawat tempur terbaik US Navy dan Marinir ketika Perang Dunia II yaitu F6F Hellcat dan F4U Corsair. Ketangguhan keduanya membalikan superioritas Jepang yang mendominasi udara Pasifik dengan A6M Zero-nya. Tetapi saat awal perang, tumpuan pertahanan udara dan laut mereka sebenarnya adalah F2A Buffalo (bersama F4F Wildcat).
Sempat disegani apalagi ia siap melindungi negara jajahan Sekutu di Pasifik dan Asia Tenggara. RAF Inggris yang diterbangkan oleh pilot Australia dan Selandia Baru menggunakan pangkalan darat di Malaysia dan Singapura; US Navy menempatkannya dikapal induk VF-3 Saratoga dan VF-2 Lexington yang berpatroli di perairan Hawaii dan Filipina; dan Militaire Luchtvaart Belanda melindungi jajahan Hindia Belanda. Apa mau dikata, serangan udara gencar dan cepat Jepang atas pangkalan udara Sekutu mengubahnya menjadi gundukan logam ringsek terbakar. Meskipun ada beberapa yang sempat ber-dogfight ternyata bukan tandingan kelincahan A6M Zero dan Nakajima Ki-43 Hayabusa yang diterbangkan pilot berpengalaman tempur di Manchuria.
Setelah Hongkong, Guam, Malaysia, Wake Island, dan Filipina jatuh, armada Kekaisaran Jepang mulai merangsek ke Hindia Belanda yang kaya minyak. Lewat Balikpapan, mereka menyerang Pulau Jawa. Buffalo yang berpangkalan di Madiun, Bogor, Batavia, dan Bandung sering menjadi mangsa empuk Zero, bagai nyamuk disemprot obat serangga sampai kekuatan udara Hindia Belanda punah, dengan antiklimaks saat penyerahan tanpa syarat 8 Maret 1942.
Walau bagaimana pun Buffalo adalah tumpuan armada laut Amerika dan karena itu pula bersama-sama F4F Wildcat mengawal pembom tukik SBD-3 Dauntless menenggelamkan 4 kapal induk Jepang (!) dalam pertempuran heroik tak terlupakan Battle of Midway.
Meskipun dirundung kemalangan, si pecundang diam-diam menjadi pemenang beratus-ratus mil jauhnya dari Pasifik di negeri seribu danau, Finlandia dengan prestasi yang menakjubkan.
Dari sinilah cerita dimulai….

Ke Finlandia
Tanggal 30 November 1939 Finlandia diserang Uni Soviet dalam perang yang sering disebut The Winter War. Sebuah pertarungan yang tidak seimbang bagai Daud lawan Goliath. Sebagai catatan, negara ini hanya memiliki dua skuadron tempur yaitu LeLv (Lentolaivue-skuadron udara) 26 berkekuatan pesawat tempur biplane Bristol Bulldog yang jelas sangat kuno dan LeLv 24 yang berkekuatan Fokker DXXI. Pesawatnya yang secara numerik tidak seberapa bertarung habis-habisan.
Meskipun babak-belur, Suomen Ilmavoimat-AU Finlandia tidak terkalahkan dan mampu memberikan perlawanan yang berarti. Betapapun banyak negara yang bersimpati pada perjuangan Si Daud Finlandia sehingga bantuan material datang sedikit demi sedikit dari negara tetangga dan seberang lautan. Akhir Desember Swedia mengirim satu skuadron Gloster Gladiator plus personil untuk melindungi Finlandia Utara sedangkan Denmark mengirim pilot untuk memperkuat LeLv 24. Untuk mengganti pesawatnya yang hancur Finlandia membeli Morane Saulnier MS 406 dari Perancis, Fiat G50 dari Italia, Hawker Hurricane dari Inggris, dan Brewster Buffalo dari Amerika Serikat.

Winston_Perakitan Buffalo
Robert Winston (kiri) ditugaskan sebagi perwakilan Brewster Co. sekaligus pelatih pilot Finlandia. Perakitan di pabrik Saab dibantu teknisi Norwegia (tengah). Sebuah Buffalo pertama siap terbang (kanan) tanggal 20 Februari 1940, minus identitas Suomen Ilmavoimat.

Finlandia akhir Januari 1940 membeli 44 unit Buffalo. Pesawat ini sebenarnya adalah pesanan US Navy yang diproduksi Juni 1938 tetapi dialihkan untuk dijual kepada Finlandia. Pesawat ini dipak dan dikapalkan menuju pelabuhan Stavanger, Norwegia tanggal 8 Februari. Karena hubungan multilateral yang kuat antar negara netral, pabrik Saab di Trollhättan, Swedia dipilih sebagai tempat perakitan dengan pengawasan pilot veteran US Navy Robert Winston sebagai perwakilan Brewster Co. Rencananya pilot ferry Finlandia datang dengan kereta api, berlatih dengan Winston, lalu menerbangkan Buffalo ke pangkalan udara Malmi, Helsinski. Sesuai rencana, tanggal 20 Februari, Winston berhasil menerbangkan pesawat rakitan pertama dari landasan udara Saab yang bersalju. Setelah tiga berhasil dirakit, tiga pilot pertama Finlandia datang untuk latihan terbang. Mereka mencoba menerbangkan tanggal 25 Februari setelah beberapa hari tertunda akibat cuaca buruk.
Dua hari kemudian 15 pilot tambahan datang dipimpin oleh Kapten Wäinö Bremer. Winston kaget ketika mengetahui banyak diantara pilot ferry memiliki jam terbang untuk pesawat tempur yang sangat sedikit. Beberapa diantaranya bahkan hanya memiliki 1.5 jam terbang ! Karena sedang berperang, Bremer meminta Winston melatih hanya 1 jam terbang saja tapi akhirnya mau berkompromi menambah 1 jam terbang lagi atas desakan Winston.
Tanggal 1 Maret, 4 Buffalo pertama terbang sehingga enam hari kemudian 9 unit telah berada di Finlandia. Winston menyarankan agar segera operasional tapi Bremer memutuskan menunggu sampai 12 unit. Tetapi penambahan ini tidak berlangsung mulus khususnya karena cuaca buruk sampai gencatan senjata tanggal 13 Maret 1940. Saat itu Finlandia masih tetap memiliki 9 unit dan Buffalo tidak terlibat dalam The Winter War. Meskipun demikian pesanan harus dilanjutkan dan dibantu belasan mekanik Norwegia, akselerasi perakitan meningkat sehingga pertengahan Maret, 22 unit telah siap dikirim. Saat itu Finlandia telah memiliki sebanyak 16 Buffalo memperkuat LeLv 24 untuk menggantikan Fokker DXXI. Winston sendiri akhirnya ikut mengirim pada 21 Maret dan kembali dengan kereta api lima hari kemudian.
Perkembangan situasi semakin memburuk ketika Jerman menginvasi Denmark dan Norwegia. Negara-negara Skandinavia bersiap siaga penuh tapi pengiriman masih tersisa 10 pesawat dengan 8 diantaranya siap terbang pada 18 April 1940. Finlandia tidak mau mengambil resiko ada Buffalo ditembak jatuh oleh pihak yang bertikai, untuk itu Finlandia mengirim pilot-pilot terbaiknya dipimpin Letnan Jorma Karhunen. Berdelapan mereka siap menghadapi kondisi terburuk termasuk jika ber-dogfight melawan musuh. Bersenjata dan bahan bakar penuh, mereka take off dan benar saja, ketika terbang diatas Stockholm ditembak meriam artileri udara karena dikira pesawat Jerman dan hampir kena. Untungnya semua pesawat berhasil mencapai Helsinski. Kapten Bremer dan Winston menerbangkan dua pesawat terakhir besoknya dan tiba pada hari yang sama, lengkaplah seluruh pesanan 44 unit Buffalo. Tugas Robert Winston selesai !

Rekor Tempur
Finlandia kembali diserang Uni Soviet dalam perang yang disebut The Continuation War. Tetapi kini situasi sangat berbeda dengan yang dulu. Suomen Ilmavoimat jauh lebih siap, F2A Buffalo dan LeLv 24 menjadi pesawat tempur dan skuadron garis depan. Mereka beraksi setelah 150 pembom Soviet menyerang Finlandia Selatan 25 Juni 1941. LeLv 24 mencetak skor bersih tanpa korban 10 Tupolev SB-2. Keadaan ini berlanjut terus sehingga akhir Juni skor total naik menjadi 22 angka kemenangan ( kills ).

Buffalo BW372
Tipikal kamuflase F2A Buffalo Finlandia - bagian hidung dan dibodi belakang dicat warna kuning plus gambar kucing salju lynx khas warna LeLv 24 dan memakai identitas swastika biru, logo kebangsawanan Eric von Rosen asal Swedia yang banyak membantu pendirian Suomen Ilmavoimat. Identitas ini sudah dipakai sejak 1918 jadi sangat berbeda dan tidak ada hubungannya dengan identitas fasis Black Swastika Luftwaffe

Pertempuran kembali terjadi pada tanggal 8-9 Juli seiring kepindahan LeLv 24 ke Rantasalmi, meraih 16 kills atas fighter biplane Polikarpov I-153. Bulan demi bulan berlalu dan puluhan kemenangan diraih. Tipe Polikarpov, Mikoyan-Gurevich MiG-3, Lavochkin-Gorbunov-Gudkov LaGG-3, serta Hawker Hurricane tidak berdaya melawan Buffalo. Sebegitu efektifnya sehingga pada akhir Desember 1941, LeLv 24 memperoleh kemenangan 135 kills (!) dengan angka keramat 100 kills diperoleh pada 23 September.
Mereka kembali melawan Rusia awal Januari sampai klimaks bulan Agustus 1942. Pada 14 Agustus dua flight Buffalo melibas 9 Hurricane di Seivästö. Dua hari kemudian mereka kembali melawan 8 pembom SB-2 dikawal 15 unit I-16 dan tiga MiG-3 diatas Teluk Kronstadt dan mengecap kemenangan bersih 11 kills. Ternyata semua hanya pertempuran pemanasan karena Uni Soviet kembali melancarkan serangan besar-besaran sore hari di area Seiskari-Kronstadt pada 18 Agustus. Pertempuran yang semula berskala kecil menjadi besar dengan segera. Ada 60 pesawat Uni Soviet dari tipe Polikarpov I-16, Hurricane, dan pembom Petyakov Pe-2 vs. 16 Buffalo ! Pertempuran benar-benar sengit semua bebas memilih sasaran. Malam segera turun yang menghentikan pertempuran besar tersebut. Finlandia mengklaim 16 kills yaitu dua Pe-2, satu Hurricane, dan 11 unit I-16 tetapi harus merelakan sebuah Buffalo.

PilotBuffalo_Me-109G
Pilot-pilot veteran Finlandia (kiri) sedang bersiap-siap melakukan misi tahun 1942 dengan pesawat tempur Buffalo. Me-109G (kanan) berdatangan tahun 1943, meskipun demikian LeLv 24 masih mempertahankan Buffalo dalam operasi udara.

Prestasi Buffalo semakin menurun pada Februari 1943 ketika Finlandia mendatangkan puluhan Me-109G dari Jerman untuk skuadron baru LeLv 34. Apalagi tahun 1941-1942, sebanyak 12 unit Buffalo hancur baik karena kecelakaan maupun saat bertempur sehingga awal 1943 hanya ada 23 unit siap tempur. Lavochkin La-5FN dan Yakovlev Yak-9 telah mengancam udara Finlandia tahun itu juga, jelas bukan tandingan Buffalo. Meskipun demikian LeLv 24 sempat mencatat prestasi memperoleh tambahan kemenangan sebanyak 81 kills dengan korban tiga Buffalo periode April-Mei sehingga pada 29 Mei 1943, LeLv 24 mengklaim meraih kemenangan ke-500 dihitung mulai dari The Winter War.
Ketika The Continuation War berakhir 4 September 1944, Suomen Ilmavoimat dalam pernyataan resmi selama perang Brewster Buffalo mencetak prestasi yang sangat luar biasa : 477 pesawat musuh berhasil ditembak jatuh dengan rasio bunuh (kill ratio) sebesar 32 :1 ! Artinya 32 pesawat musuh berhasil ditembak jatuh dengan korban satu Buffalo atau satu Buffalo rata-rata berhasil menembak 11 pesawat. Rekor ini bahkan tercatat dalam The Guiness Book of World Record untuk kategori pesawat tempur ! Ada 13 Buffalo Ace dengan trio terbaik yaitu Jorma Karhunen - 26 kills, Juutilainen - 34 kills, dan Wind - 39 kills. Dua orang terakhir bahkan menjadi dua ace terbaik Finlandia ketika mereka menambah angka kemenangan lewat “The Killing Machine” Me-109G, Hasse Hendrik Wind dengan 75 kills dan Eino Ilmari Juutilainen dengan 94 kills yang juga menempatkan mereka berdua menjadi Ace of Ace untuk katagori negara non-axis dan non-allied.

Taktik & Strategi
Memang bukan semata-mata hanya keunggulan Buffalo. Banyak pengamat militer mengganggap Suomen Ilmavoimat agak diuntungkan karena kualitas pilot Soviet yang umumnya rendah, kalah strategi, dan lebih mementingkan unsur kuantitas sedangkan pilot berkualitas diprioritaskan untuk menghadapi Jerman. Meskipun demikian tidak sedikit yang setuju bahwa kualitas pilot Finlandia sangat luar biasa dan seandainya Jerman berani menyerang Finlandia seperti yang dilakukan pada negara netral Norwegia maka Luftwaffe-pun akan menelan kekalahan yang sama. Hiperbolis memang, tapi patut dicatat untuk yang terakhir ini Finlandia sangat berhutang budi kepada Gustaf Erik Magnusson yang dapat dianggap sebagai father of Finnish fighter tactics.

Magnusson_Juutilainen_Wind
Dari kiri - Gustaf Erik Magnusson, Eino Ilmari Juutilainen, Hasse Hendrik Wind

Awal 1930-an, Magnusson sebagai flight commander LeLv 24 mengenalkan formasi 2 pesawat yang sebelumnya 3 pesawat--satu leader dan dua wingmen - merupakan formasi tempur efektif bagi Suomen Ilmavoimat yang memiliki kuantitas fighter minim. Selain itu ada keuntungan lain dari formasi ini yaitu bahwa setiap pilot dapat melihat ke segala arah dengan bebas dan bila tiba-tiba terlibat dalam pertempuran setiap pilot langsung bebas bermanuver serta menyerang.
Bersama pimpinan skuadron Mayor Richard Lorentz, ia mengenalkan juga pentingnya latihan shooting. Latihan ini menekankan keakuratan penembakan, sudut penembakan /defleksi yang baik saat bermanuver dan konsentrasi pada sasaran / titik rawan pada pesawat musuh. Menimba pengalaman yang didapat ketika tur di skuadron AU termodern dunia yaitu Perancis dan Jerman, Magnusson bertambah yakin bahwa taktiknya tidak salah. Untuk meningkatkan kemampuan shooting, atas desakannya, Finlandia membeli perangkat gun camera untuk mengkoreksi latihan penembakan.
Di laporan ia menegaskan, "… untuk meningkatkan kualitas shooting, kita harus melengkapi tiap pemburu dengan gun camera, tidak perduli meskipun harganya sama dengan sebuah fighter. Lebih baik berperang dengan kuantitas pesawat dan personil yang kecil tapi sangat percaya diri karena latihan dan peralatan yang sangat baik saat damai daripada memiliki banyak pesawat tapi tidak memadai latihannya untuk mencapai level unggul dalam perang udara modern." Dapat dikata kualitas shooting pilot Finlandia unggul dari negara Eropa lainnya. Sebagai contoh : pilot Jerman mampu menembak rata-rata 15-20 kena sasaran per 100 kali penembakan sedangkan Finlandia mencapai angka 30-40 bahkan ada yang mencapai 60 !
Satu hal yang diperolehnya lagi saat tur adalah komunikasi. Puluhan pos pengamat udara didirikan bagaikan mata yang selalu mengawasi langit Finlandia. Lewat radio inteligen dengan segera mereka melaporkan bila ada armada pesawat musuh dan siap untuk menyergap dengan segera dalam hitungan detik. Dengan adanya komunikasi yang terintegrasi, baik antar pilot dan dengan pengamat di darat, pilot pemburu memiliki mobilitas dan kerjasama yang sangat tinggi ketika terbang. Setelah penyergapan di suatu daerah mereka bisa patroli ke daerah lainnya bila diperlukan.
Ketika Fokker DXXI mulai memperkuat Suomen Ilmavoimat tahun 1938, Kapten Magnusson diangkat sebagai pimpinan LeLv 24. Antisipasi, taktik, dan strateginya terbukti tepat ketika perang pecah setahun kemudian. Saat The Winter War berakhir, LeLv 24 mengklaim prestasi 129 kills. Kepemimpinannya kembali membuahkan hasil menjelang berakhirnya Perang Dunia II, LeLv 24 menjadi satu-satunya skuadron dengan kills terbanyak sepanjang sejarah yaitu 877 kills dimana 271 kills dengan Me-109G yang mulai diterima pada 4 April 1944 dan berkat tangan dinginnya pula Finlandia menghasilkan 94 Ace. Jumlah ini sangat besar bila dibandingkan populasi rakyat Finlandia saat itu dan satu lagi rakyat Finlandia boleh bangga, negaranya masih tetap menjaga kedaulatan ketika Perang Dunia II berlangsung.

Epilog
Memang malang nasib Sang Kerbau, saat dibelahan dunia lain dibenci, dibelahan dunia lainnya ia sangat disayangi. Begitu berharganya Buffalo dimata pilot Finlandia sampai-sampai mereka tidak rela ada sebuah peluru-pun merusak pesawatnya. Tidak heran mereka menjulukinya Sky Pearl. Sering kali jika tertembak parah, pilot Finlandia tetap berusaha menyelamatkan sebisa mungkin. Ini terbukti tanggal 14 Februari 1943, Hasse Wind berhasil menembak jatuh dua Spitfire Soviet dengan korban aileron dan sayap kanan tertembak. Ia memutuskan untuk tidak terjun dan dengan susah payah kembali ke pangkalan. Misi heroik seperti ini kembali dilakoni Letnan Lauri Pekuri tanggal 25 Juni 1943 ketika mesin terbakar akibat tembakan Hurricane musuh. Sayangnya gagal dan dengan terpaksa ia mendarat darurat di sebuah danau. Beruntung BW-372 ini pada tahun 1998 diangkat dari danau, direstorasi, dan menjadikan satu-satunya Buffalo yang masih ada di dunia.
Dayton T. Brown mungkin tidak mengira bahwa nasib sang pemburu rancangannya sampai seburuk ini. Jika P-51 Mustang termasuk golongan The World's Greatest Fighter maka F2A Buffalo oleh pilot Sekutu masuk kategori The World's Worst Fighter. Padahal Buffalo merupakan pesawat rancangan pertama Brewster Co. yang sebelumnya memproduksi kereta, karoseri mobil, dan komponen pesawat terbang. Ia menuai prestasi pertama menyingkirkan prototipe Grumman XF4F Wildcat dalam kontrak carrier-based-monoplane-fighter yang dibuat oleh US Navy tahun 1935. Ini yang menjadikan Brown semakin yakin bahwa Buffalo dan dengan sendirinya Brewster Co. akan sukses di masa depan. Tapi yang diharapkan jauh panggang dari api. Akibat pesawat tempur produksi satu-satunya ini pula Brewster Co. mengalami kerugian karena tidak ada pesanan lagi. Saat berkecamuknya perang, Brewster Co. hanya puas sebagai penyokong bagi Chance Vought pembuat pesawat tempur F4U Corsair yang tentu saja semakin menenggelamkan nama Brewster. Menjelang akhir perang, perusahaan dililit hutang yang besar sehingga para pemegang saham menarik investasinya karena dinilai Brewster Co. tidak akan menguntungkan lagi dalam bisnis produksi pesawat terbang. Brewster Co. dinyatakan bangkrut secara resmi tanggal 5 April 1946 dan juga menutup kisah F2A Buffalo yang penuh dengan tragedi. (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2003)


Sumber Pustaka :
  1. Air & Space Magazine,"Sorry Saga of The Brewster Buffalo", edisi Juli-Juni 2001
  2. Angkasa, Majalah Bulanan,"8 Maret 1942: Akhirnya Hindia Belanda Takluk", No. 6 Maret 1999
  3. Angkasa, Majalah Bulanan,"Pertempuran Udara di Atas Jawa", No.3 Desember 1991
  4. Angkasa, Majalah Bulanan,"Wonder Fighter : Zero", No. 5 Februari 1992
  5. Gunston, Bill,A New Illustrated Guide To Allied Fighters of World War II, London : Salamander Book, 1992
Sumber Internet :
  1. Brewster B-239
  2. Brewster F2A Buffalo
  3. Brewsters to Finland
  4. Ilmari Juutilainen - Finland's Ace of Aces
  5. Gustaf Erik Magnusson - The Father of Finnish Fighter Tactics

Category: Artikel Box


PERANG FINLANDIA vs. UNI SOVIET

April 1938, Finlandia menyadari bahwa Kremlin cemas atas invasi Jerman atas Eropa dimana Jerman telah menganeksasi Austria pada musim panas dan dilanjutkan Cekoslovakia berikutnya pada musim gugur. Soviet yakin cepat ataupun lambat, Jerman mulai mengarahkan mesin perangnya ke seluruh Eropa dan daerah Rusia dengan memakai Finlandia sebagai salah satu batu loncatan karena Lenningrad hanya sejauh 50 mil dari perbatasan. Untuk mencegahnya, Finlandia harus mendapatkan bantuan militer dari Soviet, apalagi masih memiliki kaitan historis karena Finlandia merdeka dari kekuasan Tsar setelah Revolusi 1917. Tapi berdasarkan politik luar negeri netral dan tidak ingin berpihak pada pakta militer apapun, Finlandia menolak.
Pada saat yang hampir bersamaan Agustus 1939, Stalin dan Hitler menandatangani perjanjian Ribbentrop-Molotov. Sebuah pakta damai / non-agresi antara Uni Soviet dan Jerman. Tapi yang terselubung dari perjanjian ini adalah agar serangan Hitler terhadap Eropa Barat tidak diintervensi Soviet, sedangkan Stalin menandatangani untuk mengulur waktu demi memperkuat Red Army dan perbatasan yang sangat lemah.
Berdasarkan hal ini pihak Kremlin terus menekan dan bernegosiasi dengan Finlandia, Oktober 1939 di Moskow, dimana Semenanjung Hanko, kepulauan terluar di Teluk Finlandia Timur, serta Karelian Isthmus Barat akan diambil-alih Soviet guna mendirikan pangkalan militer yang kuat sedangkan Helsinski akan memperoleh ganti rugi dengan mengambil-alih teritorial lain di wilayah Soviet. Sekali lagi Finlandia menolak karena ini menyangkut wilayah kedaulatan negara dan juga keyakinan bila menerima tawaran tersebut, Rusia mungkin mencaplok wilayah Finlandia yang lain. Karena negosiasi kembali gagal maka Soviet segera mengambil jalan pintas yaitu dengan langsung menginvasi seluruh wilayah Finlandia dengan mengerahkan 23 divisi, 460,000 tentara, dan 900 pesawat pada musim dingin 30 November 1939. Inilah yang disebut The Winter War.
Setelah banyak korban berjatuhan, pemerintah Finlandia kembali bernegosiasi dengan menyerahkan 5 % daerahnya untuk kepentingan Soviet, 13 Maret 1940 dan berakhirlah The Winter War. Moskow kembali menekan Helsinski setelah penyerbuan Jerman ke negara Skandinavia dan Perancis. Finlandia terisolasi, negara-negara yang semula membantu ketika The Winter War sudah tidak bisa diharapkan lagi. Finlandia sebenarnya tidak berminat pada fasisme, persekutuan dengan Jerman lebih sebagai my enemy's enemy is my friend adalah satu-satunya harapan untuk menghadang agresi Soviet yang sudah tampak di depan mata. Finlandia terlibat perang lagi dengan Uni Soviet seiring Operasi Barbarossa, 22 Juni 1941. Layaknya negara defensif, Finlandia baru terlibat setelah wilayahnya dibom Soviet, tiga hari kemudian. Inilah yang disebut The Continuation War.
Gencatan senjata terjadi lagi tanggal 4 September 1944 dan menurut perjanjian ini Finlandia harus melawan Jerman. Terjadilah perang ketiga yang disebut The Lapland War meskipun tampaknya Finlandia agak ogah-ogahan dalam perang ini. Ironis karena sebuah Ju-87 Jerman menjadi korban terakhir Brewster Buffalo pada 3 Oktober 1944. Setelah perang berakhir, Finlandia kembali dipojokkan oleh Rusia lewat perjanjian Paris 1947 yang isinya membatasi kekuatan AU yang hanya berkekuatan sebanyak 60 pesawat tempur dan 3,000 personil saja. Menjelang akhir hayatnya, Uni Soviet gagal menganeksasi Finlandia menjadi negara satelit layaknya Cekoslovakia dan Hungaria demi Pakta Warsawa. Finlandia bahkan tetap tegar menjaga kenetralan dan kedaulatannya sampai saat ini.



Category: Artikel Box


JULUKAN BURUK TAPI KEREN

VL Humu
VL Humu "Buffalo Made In Finland" - proyek ini dimulai Oktober 1942 dan prototipe terbang tanggal 8 Agustus 1944. Performanya mengecewakan dan proyek dibatalkan, Suomen Ilmavoimat memutuskan untuk mempertahankan armada Buffalo yang tersisa sampai pensiun 14 September 1948.

Nama gagah Buffalo berasal dari RAF setelah menerima F2A-2 Model 339 dari Brewster tahun 1941. Meskipun berarti "Kerbau", tidak ada hubungan sama sekali dengan hewan berotot kuat itu. Inggris terbiasa memberi nama pesawat produksi Amerika Serikat berdasarkan tempat produksinya dan tentu saja nama Buffalo adalah kota dimana pabrik Brewster berada. Contoh lain yang terkenal adalah pesawat angkut DC-3 dimana Inggris memberikan nama berdasarkan tempat pabrik Douglas di kota Dakota.
Sementara bagi pihak pilot sendiri menjulukinya Beer Barrel alias Gentong Bir, karena bentuknya yang buruk itu. Model 339 memiliki senjata yang lebih baik dan mesin yang lebih bertenaga 1,100 hp, tetapi semuanya sia-sia ketika pecah perang Pasifik. Pilot Sekutu memanggilnya Suicide Barrel dan Flying Coffin karena pilot yang terbang dengan Buffalo pasti tak akan kembali dengan selamat dari pembantaian A6M Zero.
Lain padang lain belalang. Pilot Finlandia menamakannya Taivaan Helmi alias Sky Pearl. Mungkin karena langka seperti mutiara (hanya 44 unit) dan indah (menurut pilot Finlandia tentu, jadi jangan protes !). Meskipun Suomen Ilmavoimat mengadopsi versi awal F2A-1 Model 239 bermesin versi ekspor Wright Cyclone 950 hp, bersenjata tiga 12.7 mm dan sebuah 7.67 mm (dua 12.7 mm disayap dan sisanya di hidung pesawat), Buffalo sukses melawan agresi udara Soviet.
Selain disukai karena manuvernya lincah, mampu patroli lama sampai 4.5 jam dan mudah dirawat, Buffalo memiliki kegunaan lain yaitu sebagai pesawat transpor karena mampu mengangkut tambahan penumpang di kokpit yang memang luas dan barang-barang di ruang badan pesawat. Ini pernah dilakukan pertama kalinya saat pengiriman 4 pesawat pertama. Selain membawa suku cadang ekstra, Buffalo juga membawa lusinan makanan yang sulit didapat akibat perang seperti coklat, jeruk, dan rokok. Pernah secara tidak resmi sebelum The Continuation War, seorang sersan udara menerbangkannya ke pangkalan udara lain sambil membawa seorang letnan bersama temannya, seekor anjing miliknya, dan banyak barang layaknya mau berpergian jauh ! Tentu saja perbuatannya ini ketahuan saat mendarat, pimpinan skuadron menegur keras sambil menyelipkan humor, "Sebagai komandan dari skuadron pesawat pemburu berawak satu…." Hasilnya ? Julukan unik dan lucu gentlemen's traveling plane diberikan pilot Finlandia kepada Buffalo.
Ada informasi yang sering terlewat bahwa pabrik pesawat dalam negeri Finlandia, Valtion Lentokonetehdas (VL) pernah membuat Brewster Buffalo. Menimba pengalaman pembuatan lisensi Fokker DXXI, diharapkan bisa mandiri memproduksi untuk menggantikan Buffalo yang hancur. Berbekal mesin Shestov M-35 1,000 hp Rusia pampasan Jerman, sebuah Buffalo tiruan bernama Humu atau Storm berhasil diproduksi meskipun sayap terbuat dari kayu akibat minim persediaan alumunium. Sayangnya pesawat ini gagal diproduksi masal karena kurang lincah. Hanya satu dibuat dan beruntung sempat diselamatkan untuk dipajang di museum pabrik VL.


----

KUNJUNGAN ISTIMEWA

Tanggal 4 Juni 1942, 4 unit Buffalo dipimpin Hasse Wind diperintahkan untuk ke Immola untuk mengawal pesawat yang berisi pejabat Jerman. Hari itu adalah ulang tahun Panglima Marshal Mannerheim ke-75, Wind merasa ada kaitannya dengan misi ini. Setelah terbang ke titik penjemputan, ia kaget karena mereka tidak sendirian. Ada 30 unit Me-109 yang mengawal sebuah pesawat angkut bermesin empat Focke Wulf Fw 200 Condor. Wind kembali bertanya dalam hati siapa gerangan sang tamu istimewa ini.
Setelah mendarat barulah diketahui pejabat itu adalah Adolf Hitler ! Ia langsung keluar dan berlari ke arah Mannerheim yang telah menunggunya. Mannerheim langsung berbisik pada ajudannya, "Seorang Jenderal tidak berlari, hanya kopral yang melakukannya (catatan : pangkat terakhir Hitler dalam ketentaraan PD I adalah kopral) !" Sebagai bukti aliansi yang kuat, Hitler berada selama 6 jam di Immola dan menghadiahkan mobil Mercedes anti peluru kepada Mannerheim. Pukul 18.30, Hitler meninggalkan Immola.