• My Article

Keywords
Category 
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19]

Category: Artikel Pilihan


TUSKAGEE AIRMEN :
"THE RED TAILS SQUADRON"


Inilah kisah nyata perjalanan para penerbang Amerika Serikat yang harus mengalami perang dua kali. Berperang melawan armada udara Jerman dan berperang melawan diskriminasi rasial !

P-51RedTails

Tanggal 9 Desember 1998, 28 tahun setelah pensiun dari USAF (Angkatan Udara Amerika Serikat), Letnan Jenderal Benjamin O. Davis Jr. menerima secara kehormatan bintang empat yang sekaligus mengukuhkannya menjadi Jenderal penuh dari tangan Presiden Bill Clinton di Presidential Hall White House, Washington DC. Dalam pidato sambutannya Presiden Clinton menyatakan Jenderal Davis adalah, "seorang pahlawan sewaktu perang, pemimpin dimasa damai, pionir dari kebebasan, kesempatan, dan martabat manusia yang paling dasar. Jenderal Davis telah membuktikan bahwa dia dapat berjuang melawan segala bentuk kehinaan dan diskriminasi…."
Tak dapat disangkal ia memang seorang pionir besar. Davis merupakan orang kulit hitam pertama yang lulus dari akademi elit Angkatan Darat Amerika Serikat West Point, salah satu perwira penerbang kulit hitam pertama dan sekaligus menjadi komandan dari skuadron tempur yang seluruh anggotanya berkulit hitam 99th Pursuit Squadron yang terkenal dengan nama Tuskegee Airmen.
Pada era 1940-an, Davis bersama pilot berkulit hitam lainnya berjuang melawan penindasan dan diskriminasi khususnya dalam ketentaraan, berjuang untuk mendapatkan tempat dalam jajaran elit Army Air Force, dan berjuang untuk membuktikan kepada mereka bahwa mereka telah salah. Siapa mereka ? Mereka adalah orang-orang (baca : kulit putih) picik dan juga rasialis yang menggangap bahwa kaum negro tidak mampu menjadi pilot. Mereka menganggap bahwa ilmu aviasi dan keteknikan tidak bisa dipelajari dan telalu rumit buat orang-orang negro. Dan mereka benar-benar terbukti salah !

99th Fighter Squadron
Cukup mengherankan bila negara Amerika Serikat yang mengaku demokratis dan dengan menekankan persamaan hak dan kewajiban (dimuat dalam Declaration of Independence 1776) tanpa membedakan apapun khususnya ras, masih menganggap orang kulit hitam sebagai warga negara kelas dua. Meskipun berdasarkan sejarah telah ada prajurit maupun perwira kaveleri berkulit hitam yang berjuang melawan tentara Konfederasi ketika Civil War 1860-an tetap saja banyak yang meragukan integritas patriotisme, keberanian, kemampuan, dan lebih gila lagi tingkat kecerdasan kaum kulit hitam.
Ini bahkan diperkuat dengan laporan penyelidikan tertulis Angkatan Darat Amerika tahun 1925 yang menyatakan bahwa prajurit kulit hitam secara fisik,mental, maupun psikologi tidak cocok untuk berperang ! Suatu laporan yang jelas-jelas tidak ada dasar ilmiahnya dan sangat dibuat-buat guna melegitimasi rasisme di tubuh Angkatan Bersenjata Amerika khususnya pada Army Air Force yang saat itu mulai berkembang menjadi kekuatan udara yang modern. Lebih parah lagi pangkat keperwiraan Angkatan Darat sampai tahun 1940-an untuk orang kulit hitam sangatlah sedikit, membuat pemisahan kesatuan berdasarkan warna kulit dan mendapat diskriminasi seperti mendapatkan fasilitas terpisah dan lebih buruk serta memperoleh tugas-tugas lebih berat dari apa yang didapat prajurit berkulit putih.
Tetapi segalanya mulai berubah ketika Franklin D. Roosevelt, sang pejuang hak asasi yang saat itu juga menjadi presiden Amerika Serikat memerintahkan Army Air Force untuk membuka pintu bagi orang-orang kulit hitam dari seluruh penjuru Amerika untuk bergabung. Terbentuklah skuadron eksperimental 99th Pursuit Squadron di pangkalan udara sekaligus merangkap institut pendidikan AD dekat kota Tuskegee, Alabama dan dari sini pula nama "Tuskegee" berasal. Grup pertama kadet yang disebut kelas 42C dimulai pada awal Juli 1941 dan sebanyak 12 kadet plus tentu saja satu-satunya perwira dalam kelas ini, Capt. Benjamin O. Davis Jr. Sementara kelas berikutnya 43C menyusul setahun kemudian sampai kelas terakhir 46C yang selesai saat berakhirnya perang dunia II (Juni 1946).

McGee&Crockett
Dari kiri, Charles McGee dan Woodrow Crockett, dua dari sekian banyak penerbang P-51 Mustang, Tuskagee Airmen yang terlibat misi tempur saat PD II.

Banyak alasan mengapa orang kulit hitam Amerika ini bergabung ke Army Air Force. Sebagian besar tertarik karena ilmu penerbangan, seperti yang diungkap secara jujur oleh Charles McGee alumni kelas 43C, "Satu-satunya yang aku ketahui tentang ilmu aviasi adalah menerbangkan pesawat kertas sewaktu sekolah dasar dulu. Tetapi sangat senang karena aku sebagai orang kulit hitam memiliki kesempatan untuk mempelajarinya…." Dan sebagian lagi tertarik hanya karena gaji yang besar seperti yang dialami Woodrow Crockett alumni 44C yang sebelumnya menjadi prajurit dan bertugas sebagai sopir truk militer AD selama dua tahun sebelum akhirnya tertarik pada sebuah poster perekutan masuk Army Air Corps, "Mereka menawarkan gaji $245 per bulan, itu 10 kali lipat gajiku di ketentaraan…ditambah lagi aku capek tidur di barak yang kotor atau tidur di dalam truk, kupikir aku mendapatkan tempat tidur yang nyaman pada malam hari setelah bekerja seharian di udara." Layaknya sebuah skuadron percobaan, perkembangannya sangat lambat tapi perlahan namun pasti tanggal 2 September, Capt. Davis berhasil terbang solo sekaligus dinobatkan sebagai pilot Army Air Force. Empat lainnya menyusul menerima wing penerbang pada tanggal 7 Maret 1942, seiring pergantian nama Pursuit menjadi 99th Fighter Squadron. Selanjutnya untuk mendukung skuadron ini telah dibuka kelas perawatan dan pengoperasian pesawat di pangkalan Chanute, Illinois. Dengan dibukanya kelas terakhir ini maka telah lengkaplah kebutuhan personil dari Skuadron Tempur 99 baik pilot maupun awak darat pada awal 1943.

332nd Fighter Group
"The Baptism of Fire" mereka dimulai ketika bergabung dengan 33rd Fighter Group di Farjouna,Tunisia yang mengoperasikan P-40 Tomahawk pada 31 Mei 1943. Meskipun Tomahawk kalah kelas dengan pemburu Jerman salah seorang pilot skuadron 99, Joseph Gomer malah memuji, "Dengan hidung panjang dan kuat mesinnya benar-benar menakjubkan. Benar-benar pesawat pemburu oke…." Tiga hari kemudian, 4 pilot melakukan pertempuran pertama kalinya lewat serangan darat terhadap posisi tentara Jerman dan Italia di Pantelleria. Baru tanggal 9 Juni mereka bertempur melawan pemburu Axis meskipun tanpa menuai kemenangan. Tanggal 11 Juni 1943, Pantelleria menyerah karena serangan udara terus menerus dari Sekutu. Skuadron 99 merupakan salah satu kunci sukses penyerangan udara itu.
Skuadron 99 dipindahkan guna melancarkan operasi udara di Sisilia, Italia pada 29 Juni 1943. Tercatat Lt. Charles Hall mengukir angka pertama bagi skuadron 99 dengan menembak jatuh sebuah Focke Wulf Fw-190 Jerman. Meskipun sukses, mereka menerima kritik dari komandan 33rd Fighter Group Kolonel William Momyer yang menyatakan bahwa mereka masih kurang disiplin dan kurang agresif menyerang musuh. Sebagai komandan adalah hal wajar memberikan kritik keras demi meningkatkan prestasi setiap penerbang. Tapi maksud Momyer ini ditanggapi keliru oleh pers. Majalah Times edisi September 1943 lewat artikelnya menjelek-jelekan Skuadron 99 sebagai skuadron gagal. Tetapi para awak Skuadron 99 tetap tabah dan terus menjalankan operasi dengan sebaik-baiknya. Dan mereka berhasil mewujudkannya sejak bulan Januari 1944.
Bersaing dengan skudron tempur lainnya yaitu 79th Fighter Group, tanggal 24 sekelompok P-40 dipimpin Capt. Clarence Jamison berhasil menembak jatuh 5 pemburu Jerman. Diikuti pada siang harinya 3 angka diperoleh lagi. Empat angka tambahan diperoleh esok harinya. Pada 7 Februari, Skuadron 99 mengklaim tambahan sebanyak 3 pesawat musuh dan saat yang sama mereka memperoleh perhatian khusus dan pujian dari pejabat tinggi AD khususnya Jenderal Henry "Hap" Arnold yang nantinya setelah perang menjadi tokoh pendiri USAF.
Seiring dengan berakhirnya Operasi Strangle atas Italia pada bulan Mei 1944 merupakan tugas terakhir dari 99th Fighter Squadron sebagai kesatuan mandiri karena disatukan secara permanen pada 332nd Fighter Group. Tanggal 4 Juni 1944, skuadron 99 mulai bergabung dengan skuadron 100, 301 dan 302 untuk membentuk 332nd Fighter Group. Semuanya lulusan Tuskegee dan tentu saja seluruhnya berkulit hitam. Sebelumnya Group Tempur ini berkekuatan P-40 Tomahawk dan P-39 Airacobra tetapi sejak penggabungan digantikan oleh P-47 Thunderbolt dan P-51 Mustang guna melakukan tugas-tugas pengawalan pembom jarak jauh, menusuk jantung pertahanan Jerman Selatan dan Tengah. Mereka ditempatkan di Ramitelli, Italia dan sebulan kemudian melakukan tugas pengawalan untuk 15th Strategic Airforce, skuadron-skuadron pembom berat B-17 Flying Fortress dan B-24 Liberator.
Dari sinilah nama Tuskegee atau The Red Tail berkibar dan terkenal.

“The Red Tail Squadron”
Pilot Mustang itu melihat deretan Messerschmitt Me-109 berusaha menghampiri sebuah pembom B-24 yang salah satu mesinnya mati akibat tertembak meriam anti pesawat. Pilot kulit hitam yang bernama Lt.Luke Weather cepat-cepat melepaskan tangki cadangan dan segera melindungi pembom tersebut. Ia berhasil menembaki leader pemburu musuh dengan senapan 12.7 mm-nya. Messerschmitt terbakar dan jatuh kebawah. Weather mengontak lainnya untuk melindungi dari belakang dan ia mendengar lewat earphone, "Kami segera melindungimu." Tetapi ketika Weather melihat kebelakang, ia malah mendapatkan sebuah Me-109 lainnya sedang memuntahkan kanon kearahnya.
Ia segera menurunkan flap dan mengurangi kecepatan secara mendadak. Pilot musuh tidak menyangka mangsanya melakukan manuver ini malah terlanjur ke depan. Posisi yang baik bagi Weather. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas dan langsung menyemburkan peluru-peluru ke badan Messerschmitt. Dua angka diraih Weather. Ia sempat melihat setidaknya dua atau tiga pemburu musuh lainnya yang dengan mudah dapat ditembak, tapi teringat akan pesan sang komandan, "Tugasmu adalah melindungi pembom dan melaksanakan misi sebaik-baiknya dan bukan mengejar angka kemenangan demi kejayaanmu sendiri !"
Weather langsung berbelok kembali melindungi formasi pembom.
Cuplikan diatas adalah salah satu kejadian nyata dari pengawalan 332nd Fighter Group pada November 1944. Periode Juni 1944 sampai April 1945, Thunderbolt dan Mustang Tuskegee Airmen benar-benar sibuk luar biasa. Melakukan puluhan misi umumnya misi pengawalan pembom dengan sasaran yang juga tidak main-main kuat pertahanan udaranya diantaranya Ploesti di Rumania, daerah Utara Italia, kota-kota industri Rheine, Munich dan juga ibukota Jerman, Berlin. Sering kali mereka berhasil menembak jatuh pemburu musuh tetapi tidak jarang pula korban jatuh dari pihak mereka, tetapi tidak satupun korban jatuh dari pihak pembom. Para awak B-17 dan B-24 yang pernah dikawal 332nd Fighter Group sangat memuji dan mengenal Mustang-nya dari warna merah menyala pada ekor dan baling-baling sehingga menjulukinya "The Red Tail", si ekor merah.
Di buku Mustang Aces of 9th and 15th Airforce, salah seorang awak B-24 memberi kesaksian, "P-38 Lightning terbang terlalu jauh. Beberapa Mustang malah terbang terlalu dekat…sementara grup Mustang lain,sepertinya hanya ingin memburu Me-109…sedangkan The Red Tail berbeda karena selalu ada ketika kami benar-benar membutuhkan …Kami bahkan tidak tahu mereka berkulit hitam. Pihak AD merahasiakannya."
Desember 1944, 332nd Fighter Group kembali melakukan 22 misi, diikuti 11 misi pada Januari 1945, dan 39 misi dibulan Februari. Tanggal 24 Maret 1945 dipimpin langsung Kol. Benjamin O.Davis Jr melakukan misi pengawalan paling jauh dan berbahaya yang pernah dilakukan 15th Strategic Airforce. Sejauh 1.600 mil menghancurkan pabrik mesin dan tank Daimler Benz di Berlin. Dan lagi-lagi tidak ada satupun pembom ditembak jatuh sehingga 332nd Fighter Group menerima penghargaan Distinguished / Presidental Unit Citation atas prestasi besar tersebut.
Tuskegee Airman terus terbang dan bertempur sampai berakhirnya perang mandala Eropa tanggal 8 Mei 1945.

Tugas Terberat
Jadi tugas terberat apa yang pernah diemban para Tuskegee Airmen ini ? Apakah memburu pesawat Jerman, misi pengawalan berbahaya, ataukah…?
Ternyata semua salah. Tugas terberat Tuskegee Airmen adalah melawan rasisme dan diskriminasi itu sendiri. Kesaksian dua pilot veteran Charles McGee dan Woodrow Crockett mungkin dapat memberikan gambaran betapa beratnya "tugas" tersebut ketika menyentuh di kehidupan nyata.
Crockett masih mengenang ketika ia diusir dari klub perwira karena semata-mata perbedaan warna kulit. "Tapi tawanan perwira Jerman boleh masuk dan malah mendapat perlakuan yang lebih baik ," kata Crockett.
"Keika ditugaskan ke Eropa, kami diterima baik oleh orang Eropa, " kata McGee," Sangat jarang mendapatkan kesulitan bahkan dengan skuadron Amerika lainnya. Tapi ketika kembali ke Amerika, proses alienisasi tiba-tiba muncul, mereka cueki, tidak ada keakraban lagi."
Mereka berdua masih beruntung bila dibandingkan pilot-pilot kulit hitam dari 477th Medium Bombardment Group. Selain 332nd Fighter Wing, para Tuskegee Airmen bergabung dengan kesatuan pembom taktis berkekuatan B-25 Mitchell meskipun tidak ikut berperang tapi dipimpin oleh komandan berkulit putih. Inilah pangkal masalahnya. Sang komandan menerapkan diskriminasi dengan menganggap pilot kulit hitam tidak lebih sebagai trainee, lebih rendah kedudukannya dari perwira dan sebagai trainee tidak berhak masuk di klub perwira.
"Bayangkan saja mereka menyebut kami trainee berkulit hitam," demikian kesaksian salah satu perwira Letnan Dua Oliver Goodall, "itu jelas melanggar peraturan dan bertekad melawan. Kami sengaja masuk ke klub perwira dan akibatnya 101 orang dari kami ditangkap dan sekaligus "memotong" wing penerbang kami. Ketika perang berakhir, mereka kembali mengejar dan mencoba menghapus karir militer lewat pengadilan militer dengan tuduhan sebagai biang kekacauan di skuadron termasuk diantaranya saya sendiri."
McGee kembali berkata bahwa diskriminasi sangat menyakitkan apalagi sampai menyentuh keluarganya. "Apa tugas terberat yang pernah aku alami ? Cobalah menjelaskan kepada putriku Charlene mengapa ia tidak boleh bermain di taman kota tepat diseberang jalan rumah. Ada tanda larangan di taman itu tertulis 'No Blacks Allowed' , jadi bagaimana menjelaskan rasisme kepada anak umur 8 tahun ? Tentu terasa pahit dan tersiksa tapi percayalah ada yang mengalami perlakuan jauh lebih buruk dan kami bertekad untuk bertahan, " tambah McGee.
Ya, mereka akhirnya dapat bertahan dan rakyat Amerika khususnya dari minoritas kulit hitam sangat berterima kasih kepada Tuskegee Airmen karena pengaruhnya membuat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat tumbuh besar berdasarkan kualitas dan performa bukan dari warna kulit. Para pemberani ini dengan disiplin kuat, ketetapan hati untuk maju, jiwa penerbang tak kenal menyerah, dan keberanian yang luar biasa berhasil mewujudkan itu semua. (Sudiro Sumbodo,Jakarta,2003)

Sumber Pustaka :
  1. Airman Magazine,"Lonely Eagles", Edisi Februari 1999
  2. Airman Magazine,"Gen. Benjamin O. Davis Jr.: A Pioneer For Freedom", Edisi Februari 1999
Sumber Internet :
  1. The Tuskegee Airmen 332nd Fighter Group
  2. Tuskegee Airmen Inc.
  3. Tuskegee Airmen - Wikipedia, the free encyclopedia

Category: Artikel Box


COMBAT RECORD TUSKAGEE AIRMEN

Archer,Davis,and Mustang
(Dari kiri) Lee "Buddy" Archer sang Ace, Benyamin O. Davis sang Komandan Tuskegee Airmen, dan pesawat tempur andalan P-51 Mustang.

Meskipun perolehan angka kemenangan di udara tergolong kecil karena lebih mementingkan keberhasilan misi dan keselamatan pembom, Lee "Buddy" Archer (302nd Fighter Squadron) menjadi satu-satunya Ace dari Tuskegee Airmen sekaligus Ace kulit hitam pertama, menerbangkan P-51C Mustang dengan 5 kills.
Selain itu 332nd Fighter Group mencatat combat record yang jauh lebih hebat, yaitu :
  1. Lebih dari 15,000 combat sorties dilakukan, termasuk 6,000 diantaranya milik skuadron tempur 99 mulai periode Mei 1943 sampai Juni 1944.
  2. Tercatat 150 pesawat Jerman dihancurkan di darat dan 111 pesawat Jerman berhasil ditembak jatuh, termasuk tiga pemburu jet Messerchmit Me-262 masing-masing berhasil ditembak jatuh oleh Roscoe C. Brown Jr., Charles Brantly dan Earl Lane saat misi tanggal 24 Maret 1945 yang terkenal itu.
  3. Sebanyak 950 gerbong kereta,truk, dan kendaraan tempur darat lainnya berhasil dihancurkan.
  4. Tidak ada satupun pembom jatuh atau hilang saat dikawal 332nd Fighter Group, sebuah prestasi unik yang tidak ada duanya.
  5. Sebuah kapal destroyer Jerman berhasil dihancurkan oleh Letnan Gynne Pierson (302nd Fighter Squadron) dengan “hanya” memakai delapan senapan mesin kaliber 12.7 mm (!) dari P-47 Thunderbolt bulan Juni 1944. Lagi-lagi prestasi unik tidak ada duanya.
  6. Telah disematkan medali militer sebanyak 150 medali DFC (Distinguished Flying Cross), 744 Air Medal, 8 Purple Heart, dan 14 Bronze Star.
Ini tentu bukan tanpa pengorbanan, sebanyak 66 pilot tewas baik dalam tugas maupun kecelakaan dan 32 pilot menjadi tawanan perang (POW / Prisoner of War).


Category: Artikel Box


EFEK TUSKEGEE AIRMEN

Benyamin O Davis
Penyematan kepangkatan jenderal penuh kepada Benyamin O. Davis oleh Presiden Bill Clinton, tanggal 9 Desember 1998 disaksikan anggota veteran Tuskegee Airmen dan organisasi Tuskegee Airmen Inc. yang mengenakan jas merah.

Jadi berhasilkah Tuskegee Airmen meyakinkan pihak-pihak yang semula pesimis terhadap kemampuan orang kulit hitam ? Hasilnya memang sangat terasa.
Tanggal 26 Juli 1948, Presiden Harry S. Trumman mengeluarkan Executive Order No.9981 yang berisikan "persamaan perlakuan dan kesempatan" bagi seluruh anggota kekuatan militer. Maksudnya jelas yaitu untuk menghilangkan diskriminasi dan pemisahan kesatuan berdasarkan warna kulit sekaligus membuka seluas-luasnya pendaftaran anggota militer. Ini merupakan langkah awal melawan rasisme di tubuh AB Amerika.
Tanggal 27 Oktober 1954, Kolonel Benjamin O. Davis Jr, komandan 332nd Fighter Wing diangkat menjadi Brigadir Jenderal, orang kulit hitam pertama yang berhasil memperoleh satu bintang USAF.
Tanggal 15 Mei 1955, edisi pertama buku The Tuskegee Airmen diterbitkan dengan pengarang Charles E. Francis.
Bulan Agustus 1971 terbentuk wadah organisasi veteran para Tuskagee Airmen yang dikenal sebagai Tuskagee Airmen Inc. dan disahkan tanggal 25 Februari 1975 . Organisasi ini nirlaba dan sosial khususnya dibidang pendidikan, memberikan beasiswa dan pendirian museum Tuskegee Airmen National Historical di Detroit, Michigan.
Tanggal 1 September 1975, Daniel "Chappie" James dipromosikan menjadi Jenderal USAF kulit hitam pertama yang meraih empat bintang.
Efek dari Tuskegee Airmen juga merambah bukan hanya untuk pria tapi juga untuk wanita sehingga kita mengenal nama Mayjen Marcelite J. Harris sebagai jenderal perempuan berkulit hitam pertama berbintang dua AD Amerika.
Serta bukan hanya di darat, laut, dan udara tetapi ruang angkasa sehingga kita juga mengenal astronot kulit hitam pertama Guion "Guy" Bluford.